Andi Malewa, Pendiri Rumah Baca di Terminal Depok

Andi Malewa, lulusan terbaik ke-3 Universitas Pancasila 2011 ini adalah pendiri dari rumah baca Paguyuban terminal (Panter)

Andi Malewa, Pendiri Rumah Baca di Terminal Depok
tribunnews.com/yunike lusi
Andi Malewa,pendiri rumah baca Panter di terminal Depok (berkaos putih) 

Laporan Yunike Lusi

Tribunnews.com - Layaknya oase di padang gurun, begitulah peranan rumah baca Panter di tengah bisingnya bus-bus yang berlalu lalang dan hiruk pikuknya aktivitas terminal bagi anak-anak pinggiran yang rindu mengenal dunia lewat buku bacan
 
Andi Malewa, lulusan terbaik ke-3 Universitas Pancasila jurusan Teknik Informatika 2011 ini adalah pendiri dari rumah baca Paguyuban terminal (Panter). Enam tahun hidup di jalan menjadi alasan mengapa Andi mendirikan rumah baca ini.

Tak banyak yang tahu bahwa Andi adalah anak putus sekolah tamatan SMA di Makassar yang merantau ke Jakarta mencari sesuap nasi lewat kerja serabutan demi menyambung hidup. Nyaris enam tahun hidup di jalanan, dari pasar ke pasar pabrik ke pabrik dan terdamparlah disini, terminal Depok.

Perihnya kondisi keluarga yang ayahnya sakit-sakitan membuat Andi marah dan memilih untuk keluar dari rumah dan turun ke jalan. Namun, hiudpnya memiliki satu tujuan yang berarti, mencari uang demi menyambung hidup.

Bak kejatuhan durian runtuh, Andi ditawari seorang berbaik hati yang tak ingin disebut namanya untuk sekolah kembali. Saat itu, umur Andi sudah berumur 24 tahun. Seiring itu berkata bahwa Andi masih memiliki potensi untuk sekolah kembali.

Tepat tahun 2007 Andi dikuliahkan di Universitas Pancasila dengan syarat dibayar per semester dengan biaya kehidupan ditanggung sendiri. Andi pun kuliah sembari ngamen untuk menyambung kehidupannya.

“Alhamdullilah, bisa lulus tepat waktu, bisa buat kado juga dipersembahain,” katanya.

Andi meminta kepada bapak tersebut agar dia memilih jalan hidupnya sendiri bukan mengikuti apa yang bapak itu mau karena sudah menyekolahkan Andi hingga lulus. Bapak itu pun melepas Andi untuk memilih kehidupannya.

Dari sinilah awalnya yang membuat Andi terbersit untuk membuat rumah baca. Menyadari betul bahwa dirinya mungkin menjadi satu dari sejuta anak jalanan yang beruntung dipungut dan disekolahkan, dirinya ingin anak-anak jalanan pun memiliki kesempatan yang sama.

“Gue pengen mereka punya kesempatan yang sama  dapet pengetahuan, buat nyekolahin mereka gue emang enggak bisa. Gue pengen buat rumah baca saja,” ucapnya.

Ruangan yang dulu tempat untuk bermain judi dan pesta muniman keras (miras) ini pun disulap Andi menjadi ruangan yang bermanfaat yang sekarang kita kenal rumah baca Panter (Paguyuban terminal). Butuh proses panjang bagi Andi unuk menyulap ruangan tersebut meenjadi ruang petak yang bermanfaat.

“Ini ruangan sayang nih buat mabok aja gimana kalo ditambahin buku,” ucapnya

“Bukunya darimana?” ucap salah seorang preman.

“Entar gue cari,” katanya.

Dulu, mereka hanya memberi sedikit ruangan untuk menaruh buku dan sisa ruangan masih dipakai untuk pesta miras. Semakin lama buku semakin banyak, Andi dapat kiriman buku dari sharingannya di twitter atas keinginannya memiliki rumah baca. Justru hal inilah yang membuat para preman dan sopir saat itu menjadi malu.

“kalau mereka (preman dan supir) bangun siang, mereka malu tuh, pas bangun sudah banyak orang,” ungkapnya.

Akhirnya, mereka pun menyerahkan ruang yang tadinya penuh dengan miras dan kartu judi itu untuk diberikan menjadi rumah baca seutuhnya. Bukan hanya sedikit ruangan lagi, tapi sepetak ruangan itu diberikan untuk dijadikan rumah baca.“malu juga kita ini kelakuan sudah tua-tua masih mabok,” ucapnya.

Mereka juga yang membantu membuat rak dan mengecat ruangan dan akhirnya berkembang bukan hanya ruang baca namun, ada beberapa kelas belajar.

Di tanggal 20 November nanti, rumah baca Panter akan berumur dua tahun. Tak ada kemeriahan khusus yang ingin dilakukan hanya ingin mengevaluasi saja sudahkah peranan rumah baca panter sudah memiliki dampak berarti bagi masyarakat Terminal Depok.

Dirinya berencana untuk membuat rumah baca di Lapas Bekasi. Keinginannya memiliki rumah baca tak hanya di terminal Depok sangat tinggi hanya saja tak banyak orang yang mau setia menjadi pekerja sosial yang tak digaji yang tak diupah layaknya pekerja berdasi di luar sana.

Sulit untuk mencari orang yang mau setia bekerja sosial seperti ini,” ungkapnya yang tak suka dengan orang yang hanya menjadi pekerja sosial di waktu luang saja.

Ingin Punya Rumah

Di luar sana ada orang yang agak berbeda dari kita, misalnya komunitas waria dan gay.

Seorang teman waria dianggap sampah oleh masyarakat. Dirinya tak ingin seperti itu. Namun, Stigmanya dia adalah sampah dan termarginalkan dari masyarakat.

Dia sendiri, dibuang dari keluarganya dan menjajakan diri di pinggiran rel. Dalam perjalanan, dia terkena HIV/AIDS. Artinya, dirinya memiliki double stigma tak hanya jadi sampah namun juga orang dengan HIV. Mau kemana dia?

Ada orang gay, tengah berjuang untuk tidak menularkan penyakitnya ke orang lain dan berjuang untuk kembali kodratnya sebagai laki-laki. Masyarakat? Mereka tidak mau menerima mereka, tidak mau mendengarkan isi hati mereka. Kalau sudah begitu, siapa yang mau peduli dengan mereka?

Hal inilah yang menjadi dasar Andi ingin sekali memiliki rumah untuk mereka. Rumah yang menampung orang-orang yang didiskrimansi masyarakat. orang-orang yang yang tak diharapkan keberadaanya.

“Someday, gue berharap ada orang kaya yang rumahnya hanya untuk investasi bukan untuk ditinggalin dihibahin ke humanioract (divisi kemanusiaan rumah baca panter) untuk ditinggalin dan tempat itu akan gue buat jadi tempat untuk menampung mereka yang tak dianggap itu,” ungkapnya.

Ada rumah untuk mereka kembali. Ada rumah yang menerima mereka. Ada rumah yang mau mendengarkan isi hati mereka.

Di rumah itu , kita sama-sama berjuang mengoptimalisasikan diri mereka untuk memiliki hidup yang lebih berarti bagi orang lain.

“Mereka harus berjuang di tengah kehidupannya karena sejatinya sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memiliki arti bagi orang lain,” ucap pemilik akun @rumahbacapanter dan @humanioract ini.

Hidup hanya sekali, sangat singkat. Kebanyakan dari kita banyak membuang waktu dan uang hanya untuk hal yang tidak perlu. Terkadang kita tidak sadar bahwa di luar kehidupan ini ada kehidupan lain yang tidak terjamah dan butuh perhatian kita semua. Komunitas yang tak butuh uang, tetapi butuh kasih sayang.

“Kita enggak akan tahu seberapa bersihnya kita kalau kita ga turun ke yang kotor,” ucapnya.

Tags
Depok
Editor: Gusti Sawabi
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved