Kisah Kesuksesan Si Ganteng Yudanegara Meminang Anak Sultan HB X

Achmad Ubaidillah (29), calon suami putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Raden Ajeng Nur Astuti Wijareni

Kisah Kesuksesan Si Ganteng Yudanegara Meminang Anak Sultan HB X
Tribun Jogja/Dok
Gusti Raden Ajeng Nur Astuti Wijareni, putri Sultan HB X dan calon suaminya, Achmad Ubaidillah.

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Achmad Ubaidillah (29), calon suami putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Raden Ajeng Nur Astuti Wijareni atau dikenal dengan Jeng Reni, kini punya gelar bangsawan Keraton Ngayogyokarto. Namanya pun berubah menjadi Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Yudanegara. Ia diwisuda pada Minggu (3/7/2011) pagi, di Bangsal Kesatrian, Keraton Yogyakarta.

"Saya sempat bimbang memilih nama. Setelah sebulan, akhirnya saya memilih nama KPH Yudanegara," kata Yudanegara, sebutan barunya, usai wisuda.

Pada saat bersamaan, Jeng Reni, juga mendapat gelar baru, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Nama itu dipilih karena dianggap cocok disandang pada zaman sekarang dan yang akan datang.
"Tidak tahu kenapa, nama yang paling berkesan buat saya adalah GKR Bendara," tutur Bendara, yang kala itu mengenakan kebaya warna cokelat muda, didominasi motif bunga warna hijau muda.

Selama sebulan itu, Yudanegara kerap berdiskusi dengan anggota keluarganya, terutama sang ibu. Karena karakternya dianggap pas dengan nama yang ditawarkan, akhirnya calon menantu Sultan itu memlih Yudanegara. "Dalam silsilah keraton, nama Yudanegara biasanya disandangkan untuk seorang militer. Setelah ditelaah, karakter saya pas dengan nama tersebut," ujar Yudanegara. Saat mengikuti prosesi wisuda, Yudanegara, tampak tenang. Suasana  di Bangsal Ksatrian hening. Yudanegara duduk tepat di tengah empat saka (tiang) bangsal dan dikelilingi para kerabat keraton.

Di depannya, duduk Pengageng Kawedanan Hageng Panitipura Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Joyokusumo, didampingi GBPH Prabukusumo. Keduanya adalah dua adik Sultan. Di belakang keduanya, ada Gusti Yudaningrat, Gusti Cokroningrat dan Gusti Tejoningrat.
Sedangkan Yudanegara didampingi beberapa kerabatnya. Tursandi Alwi, selaku pimpinan keluarga, mengatakan, ia dipercaya mendampingi calon mempelai laki-laki pada upacara wisuda tersebut.

Yudanegara adalah laki-laki kelahiran Jakarta, 26 Oktober 1981.  Orangtuanya asli Bandar Lampung. Ia kini menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) dan telah diangkat sebagai Kasubdi Komunikasi Politik Bidang Media Cetak sejak Maret 2011.

"Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia adalah ajudan saya. Kebetulan, saya pernah menjadi Sekretaris Wapres (Seswapres). Yudanegara bekerja bersama saya sejak 2003, terhitung sejak pertama kali menjadi PNS di Kementerian Dalam Negeri," papar mantan Gubernur Lampung, Tursandi.

Setelah tiga tahun menjadi ajudan Tursandi, Yudanegara memutuskan mengambil gelar S2 di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), Cilandak, Jakarta Selatan. Setelah lulus, ia kembali bekerja dengan Tursandi, yang sudah berganti jabatan sebagai Seswapres.
"Saya sudah menganggapnya sebagai anak. Delapan tahun ia bekerja dengan saya," kata Tursandi.

Yudanegara adalah putra bungsu dari enam bersaudara. Ia lahir dan besar di keluarga PNS. Ayahnya yang telah meninggal dunia pada 2001 lalu, pernah bekerja di Badan Pertanahan Nasional (BPN), sedangkan ibunya pensiunan Kementerian Agama.

Keluarga besarnya, tinggal di Galur, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kakak-kakaknya juga tinggal di Jakarta. Sekarang, ia tinggal bersama ibunya di belakang Rumah Sakit Budi Asih, Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur. "Ibu saya sempat tak percaya kalau saya akan menjadi menantu Sultan," beber Yudanegara.

Ia merupakan teman kakak kedua Bendara BA, yakni Nurmagupita atau GKR Condrokirono. Dari situlah pertemuan keduanya bermula. Pascaperkenalan tersebut, terjadilah komunikasi intensif.

"Saya dikenalkan olek kakak. Setelah berkenalan, ia menelepon saya. Seiring berjalannya waktu, kami semakin sering berkomunikasi. Tak jarang, kami juga meluangkan waktu untuk jalan-jalan bersama," cerita Bendara.

Semakin lama, ia mulai melihat bahwa Yudanegara adalah sosok yang dewasa dan matang. Yudanegara juga memiliki sifat pekerja keras dan bertanggung jawab. Bendara pun semakin yakin, laki-laki berpostur tinggi besar tersebut adalah jodohnya. "Setelah empat tahun berpacaran, kami akhirnya memutuskan untuk menikah," ucap Bendara mantap.

Yudanegara juga memuji sosok Bendara yang anggun dan penuh kharisma. Baginya, Bendara adalah sosok idaman bagi setiap laki-laki.  "Sejak pertama kenal, saya langsung tertarik," aku Yudanegara.

Saat sedang dalam kesulitan, saya sering curhat kepadanya. Ia sosok yang memiliki kemandirian kuat. Saat ini, Bendara membuka bisnis butik di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. "Saya melamarnya September 2010 lalu," katanya.

Editor: inject by pe77ow
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved