Minggu, 31 Agustus 2025

Negara Islam Indonesia

15 Pelajar Hilang Diduga Terkait NII

Lama tak terdengar, kini berhembus kabar maraknya para pelajar dan mahasiswa yang hilang secara tiba-tiba.

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-inlihat foto 15 Pelajar  Hilang Diduga Terkait NII
Ilustrasi bendera NII

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lama tak terdengar, kini berhembus kabar maraknya para pelajar dan mahasiswa yang hilang secara tiba-tiba. Dari laporang yang masuk di NII Crisis Center, untuk bulan ini saja ada 15 keluarga yang melaporkan anaknya hilang, diduga modusnya mirip dengan aksi organisasi bawah tanah, NII. Hal ini dikatakan oleh pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan kepada tribun, Jumat (04/11/2011).

"Kalau bukti memang sekarang lebih sulit diungkap karena barang buktinya langsung dimusnahkan. Tapi, dari modusnya mirip, cuci otak terkait perekrutan NII. Mirip dengan aksi orang hilang sebelumnya yang pernah dilaporkan kepada kami," kata Ken Seriawan.

Dari laporan yang masuk, mereka yang melaporkan anaknya hilang diduga terkait NII, berasal dari Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Para keluarga yang melapor, enggan melapor ke Polisi karena takut aib keluarga terbongkar.

"Yang menarik, laporan orang hilang diduga terkait NII di Jakarta. Yang hilang, biasanya anak karyawan atau kaum buruh. Maksudnya, agar bisa melakukan penggalangan dana dengan cara membobol ATM atau beraksi di busway. Bukti kongkritnya memang belum ada, tapi yang dilaporkan hilang modusnya sama, berbohong dan sikap keseharian yang tiba-tiba berubah," tutur Ken.

Dari banyak laporan yang diterima, termasuk kejadian-kejadian sebelumnya yang terungkap, mereka yang dilaporkan hilang, sebelumnya berbohong, suka meminta uang dengan jumlah besar tiba-tiba. Atau, menjual barang milik keluarga, dengan cara dicuri.

"Ada yang terungkap di Kebumen sekitar tiga minggu lalu. Korbannya seorang pelajar. Datang ke Jakarta, pulang ke Kebumen,  lalu berangkat lagi ngakunya ke Jakarta. Kemudian, telfon keluarganya mengaku diculik, minta uang tebusan Rp 5 juta. Anehkan, minta uang tebusan kok sebesar itu," tuturnya.

Pelajar yang dimaksud, menurut keluarganya juga mengalami perubahan drastis kesehariannya. Yang paling mudah untuk dikenali, mulai suka berbohong dan suka meminta uang dalam jumlah besar.

Saat pelajar asal Kebumen itu berhasil ditemui, saat diinterogasi keluarganya, seakan menutup-nutupi fakta sebenarnya. Yang jelas, Ken menegaskan, ciri pendoktrinan NII memang seperti itu.

"Kalau di Jakarta, mungkin ruang lingkupnya sudah dibatasi. Yang marak justru di Yogyakarta, atau di Jawa Tengah karena tak mudah diungkap," ujarnya.

Pergi dalam waktu yang lama, kemudian menghubungi keluarganya mengatakan dalam keadaan baik-baik saja. Setelah pergi dan setelah kembali, pasti  berubah sikapnya tak berani berkata jujur," katanya lagi.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan