Sri Mulyani: Kalau Pendeta Tiap Kotbah Mengenai Pajak Nanti Umat Males Datang

"Kalau saya sering ke gereja misalnya, lalu pendeta juga bicara pajak terus, nanti umatnya Bosen dong jadi tak mau datang ke gereja nanti,"

Sri Mulyani: Kalau Pendeta Tiap Kotbah Mengenai Pajak Nanti Umat Males Datang
Tribunnews.com/ Richard Susilo
Menteri keuangan Sri Mulyani (kiri) beserta Duta Besar Indonesia untuk Jepang Arifin Tasrif (kanan) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang warga Indonesia di Tokyo menyarankan menggunakan pendekatan keagamaan agar rakyat semakin terbuka mau membayar pajak.

"Kalau di Kristen ada Perpuluhan. Mungkin ibu atau staf bisa melakukan sosialisasi ke tempat ibadah berbagai agama agar rakyat lebih mau membayar pajak," ungkap seorang warga Indonesia saat pertemuan dengan menteri keuangan Sri Mulyani, (19/10/2017) malam.

Baca: Akan Ada Jalan Keluar Terbaik Terkait Masalah Divestasi dan Pajak Freeport

Menanggapi hal tersebut Menkeu mengaku dirinya pernah menemui semua pemuka agama agar mau berpartisipasi mensosislisasikan pajak kepada umatnya.

"Kalau saya sering ke gereja misalnya, lalu pendeta juga bicara pajak terus, nanti umatnya Bosen dong jadi tak mau datang ke gereja nanti," katanya.

Menkeu juga menyinggung bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan beragam.

Baca: Menteri Pariwisata Ingatkan Turis Jaga Jarak Aman Dengan Gunung Agung

"Kalau Tuhan mau menciptakan satu tipe manusia juga bisa. Tapi yang terjadi kan adanya beda manusia beda bangsa beda negara. Masalahnya pada sikap kita saja yang tidak pantas, tidak bisa menerima perbedaan, dan ini akan jadi malapetaka," katanya.

Tuhan menciptakan perbedaan menurutnya agar kita mau bersilaturahmi, saling kenal satu sama lain dan manusia bisa jadi lebih bijak.

Baca: BUMN Patungan Rp 1,7 Miliar Untuk Bantu Korban Gunung Sinabung

"Kalau tidak bergaul dengan orang lain maka jadi picik. Itulah gunanya kebhinekaan yang ada di Indonesia yang sesungguhnya juga merupakan ciptaan Tuhan," katanya.

Kemudian Pancasila merupakan ideologi mendasar bagi bangsa Indonesia.

"Adanya perbedaan tapi kita harus Commit agar bersatu dan komitmen itu hal yang mulia. Maka kita dapat menerima estafet pembangunan yang awalnya dari pendiri bangsa kita Soekarno Hatta supaya kita bisa menjadi rakyat yang sejahtera dengan gotong royong bersama," ungkapnya lebih lanjut didengarkan sekitar 200 warga Indonesia (9/10/2017) malam.

Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help