Menteri Susi: Menghancurkan Kapal di Lautan Berarti Melawan Kriminal Bukan Menghadapi Negara Asing

Susi Pudjiastuti mengingatkan bahwa dalam menghancurkan kapal asing di lautan berarti melawan kriminal dan bukan menghadapi negara asing.

Menteri Susi: Menghancurkan Kapal di Lautan Berarti Melawan Kriminal Bukan Menghadapi Negara Asing
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti (52) saat memberikan sambutan pada pembukaan pameran perikanan (seafood) dunia di Tokyo 23 Agustus 2017. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perikanan dan Kelautan DR (Hon) Susi Pudjiastuti (52) mengingatkan bahwa dalam menghancurkan kapal asing di lautan berarti melawan kriminal karena melanggar aturan yang ada, dan bukan menghadapi negara asing.

"Baru-baru ini ada pemberitaan mengenai saya dengan judul yang provokatif sih. Tapi saya hanya mengingatkan bahwa hal itu dalam menghadapi kriminal bukan menghadapi negara asing," kata Susi kepada Tribunnews.com, Selasa (28/11/2017).

Menteri Susi mengatakan selama ini yang dia lakukan semata-mata menghadapi IUUF (Illegal, Unreported and Unregulated Fishing) atau menghantam semua kegiatan yang melawan hukum di lautan.

"Saya inginkan dengan statement saya di artikel di mana pun bahwa selama ini yang saya kerjakan adalah memerangi IUUF dan bukan tentang negara apalagi melawan negara lain," kata Menteri Susi.

Baca: Agus Yudhoyono Tak Pernah Ditawari Jokowi Gantikan Khofifah sebagai Menteri Sosial

Berulang kali ditegaskan Menteri Susi juga dalam kunjungannya ke Jepang belum lama ini bahwa dirinya berani menghantam semua kapal tanpa pandang bulu bagi yang melanggar hukum peraturan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Saya hanya menjalankan upaya penegasan hukum yang berlaku atau peraturan yang ada dan menjaga kedaulatan sumber daya perikanan kita sesuai dengan amanah UUD 45 ayat 33. Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa Negara Indonesia melawan kriminal yang dilakukan selama ini, dan bukan menghantam negara lain. Ingat itu ya!" kata Menteri Susi.

Sebuah pemberitaan media asing baru-baru bahkan menuliskan tato Menteri Susi dan menuliskan judul beritanya secara provokatif.

Pemberitaan tersebut memancing pembaca mengkhayalkan akan munculnya kekerasan anti-China di Indonesia, meskipun dalam bentuk pertanyaan.

Baca: Airlangga Hartarto Minta Restu Jokowi Ikut Bertarung Gantikan Posisi Setya Novanto

"Susi mengatakan dia tidak melakukan diskriminasi. Memperlakukan semua kapal dengan sama. Saya tidak anti China. Apabila ada kapal lain dari negara lain melakukan pelanggaran pasti saya melakukan hal serupa. Saya tidak akan berhasil kalau justru melakukan diskriminasi. Dapatkah kekerasan anti China muncul kembali di Indonesia," tulis pemberitaan tersebut dalam bahasa Inggris.

Tahun lalu Menteri Susi mendapat penghargaan sebagai "Leaders for a Living Planet."

Banyak aktivis lingkungan hidup mengacungkan jempol dan dukungan kepada apa yang dilakukan Menteri Susi saat ini seperti yang diungkapkan sumber Tribunnews.com di Tokyo.

"Luar biasa Menteri Susi. Mestinya menteri semacam itu kami berharap bisa muncul di Jepang, keberanian menghantam pelanggaran hukum tanpa pandang negara. Selama ini petugas patroli Jepang sangat manis, kalau ada pelanggaran kapan asing memasuki Jepang, paling digiring ke luar daerah Jepang saja," ungkap sumber tersebut.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help