Generasi Milenial Dinilai Jadi Faktor Determinan Pemilu 2019
Konsultan politik dan kebijakan publik Muhammad Isra Ramli melihat generasi milenial menjadi faktor determinan dalam Pemilu 2019.
Editor:
Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konsultan politik dan kebijakan publik Muhammad Isra Ramli melihat generasi milenial menjadi faktor determinan dalam Pemilu 2019.
Sebab, 57% pemilih Indonesia mayoritas adalah pemilih milenial. Oleh karena itu, seluruh calon legislatif dan senator berusaha berkomunikasi dengan kelompok milenial dan menyusun program strategis yang menyasar kepentingan milenial.
“Milenial menjadi faktor penentu karena secara jumlah mereka mayoritas,” kata Isra Ramli dalam diskusi bertajuk ‘Social Media, Millenial and Election: What’s Up?' yang digelar oleh Indexpolitica dan Sang Gerilya di Jakarta.
Calon senator dari Kalinantan Utara itu
mengatakan, biasanya orang akan memahami masyarakat berdasarkan demografi yang identik dengan ruang dan waktu.
Sementara, anak milenial termasuk dalam kategori psikografis yang basisnya adalah perilaku.
Menurut Isra, kaum milenial menempatkan sosial media menjadi channel yang paling menentukan, karena penggunaannya makin meluas dan paling dipercaya.
Karena itu, dalam gelaran pemilu 2019 para kandidat yang bisa merebut kaum milenial, maka ia akan menang.
“Cara komunikasi yang paling efektif dengan generasi milenial adalah dengan saluran sosial media. Jadi, siapa kandidat yang menang di sosial media, maka ia akan menang,” ungkap Isra dalam keterangannya, Minggu (4/11/2018).
Direktur IndexPolitica Denny Charter berpandangan, media sosial telah menjadi infrastruktur yang penting bagi kedua calon presiden untuk membentuk opini politik pada Pemilu 2019.
Merujuk pantauan IndexPolitica, persaingan dua kandidat calon Presiden RI di sosial media cukup ketat.
Menurut Denny, secara bergantian kedua pasang capres unggul di Share of Voice dalam satu bulan terakhir.
Sementara, pemberitaan dan pembicaraan Jokowi lebih mendominasi dibandingkan Maruf Amin.
Sedangkan di satu sisi lagi, pemberitaan dan pembicaraan Sandiaga Uno lebih banyak dibandingkan dengan Prabowo Subianto.
“Waktu tersisa 6 bulan lagi semua kemugkinan masih dapat terjadi. Mereferensi Pipres Amerika Serikat 2016 dan Pilpres RI 2014 yang lalu, dimana analisis social media bisa dijadikan sebagai second opinion barometer kontestasi Pilpres 2019 nanti,” katanya.
Sedangkan, Koordinator Sang Gerilya Institute, Indra J Piliang mengatakan, kekuatan media sosial yang umumnya dilakukan kaum milenial cukup memengaruhi pilihan politik.