Mahfud MD: Toleransi Ala Madura Jamin Kekuatan Persatuan Bangsa

Dalam pengantar sarasehan Mahfud MD mengemukakan bahwa dipilihnya thema dan tempat tersebut karena Madura yang sering disebut sebagai Serambi Madinah

Mahfud MD: Toleransi Ala Madura Jamin Kekuatan Persatuan Bangsa
Ist
Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD (tengah) dalam Sarasehan Kebangsaan, diselenggarakan di ponpes Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep, Madura. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Sumenep

TRIBUNNEWS.COM, MADURA - Gerakan Suluh Kebangsaan dipimpin oleh Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U. pada hari ini, Senin (4/2/2019) hadir pada Sarasehan Kebangsaan, diselenggarakan di ponpes Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep, Madura.

Thema sarasehan adalah "Mengembangkan Budaya Toleransi Ala Masyarakat Madura".

Dalam pengantar sarasehan Mahfud MD mengemukakan bahwa dipilihnya thema dan tempat tersebut karena Madura yang sering disebut sebagai Serambi Madinah itu menampilkan wajah Islam yang sangat ramah.

"Masyarakat Madura yang mayoritas muslim dikenal sangat taat beragama dengan orientasi pada ahlussunnah wal jamaah sesuai khitthah NU tapi sangat toleran terhadap pemeluk agama lain," ungkap Mahfud MD kepada Tribunnews.com malam ini (4/2/2019).

Di desa Talang, Pamekasan, ada sebuah bangunan tempat peribadatan yang disebut Candi . Namun demikian di dalamnya ada tempat beribadah beragam agama seperti masjid, kelenteng, vihara, candi, dal lain-lain.

Bahkan masjid agung Sumenep dibangun dengan arsitektur peribadatan oleh orang-orang Cina.

Pendeta Kristen Ferry yang bertugas di Sampang mengatakan, "Andaikan Indonesia memasyarakatkan toleransi seperti masyarakat Madura tentu Indonesia akan damai, rukun, dan aman."

"Toleransi seperti yang dihayati masyarakat Madura dapat menjamin kokohnya persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. Madura adalah laboratorium persatuan dan toleransi yang sangat bagus," papar Mahfud MD.

Sarasehan yang dihadiri oleh para tokoh Madura tersebut menghadirkan pemantik asal Madura yakni mantan rektor UIN Surabaya Prof. Abdul A'la, mantan Katib Aam PBNU Dr. KH A.Malik Madani, dan budayawan asal Madura Zawawi Imron.

Sarasehan dipandu oleh tokoh pendidikan dan pemberdayaan masyarakat Ajar Budi Kuncoro.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved