Penangkapan Terduga Teroris

Polri Belum Temukan Indikasi Keluarga SL Terlibat dalam Aksi Terorisme

Ia menjelaskan bahwa SL sendiri telah masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian sejak tahun 2014.

Polri Belum Temukan Indikasi Keluarga SL Terlibat dalam Aksi Terorisme
Istimewa
Sejumlah anggota Densus 88 Anti Teror melakukan penggerebekan terhadap dua terduga teroris di Kampung Pangkalan RT 11/04, Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Sabtu (4/5/2019) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Densus 88 Antiteror telah menangkap terduga teroris berinisial SL yang merupakan pimpinan JAD Lampung, di Babelan, Bekasi, Sabtu (4/5) lalu.

Berkaca pada aksi terorisme yang kerap melibatkan keluarga seperti di Sibolga, Sumatera Utara, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan pihaknya belum menemukan adanya indikasi keluarga SL terlibat dalam aksi terorisme.

"Sampai hari ini belum ada indikasi keluarga (SL) terlibat (aksi terorisme)," ujar Dedi, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (7/5/2019).

Ia menjelaskan bahwa SL sendiri telah masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kepolisian sejak tahun 2014.

SL dicari lantaran diduga terlibat dalam sejumlah aksi terorisme di Ibukota, seperti bom Thamrin hingga kerusuhan dan penyerangan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok.

"SL ini DPO dari tahun 2014. Dan mereka (kelompok SL) juga melakukan berbagai macam aksinya, dari aksi bom Thamrin, aksi menyerang Mako Brimob dan memanfaatkan momentum pemilu," kata dia.

Mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu mengatakan SL berusaha membaca dinamika yang terjadi di masyarakat Jakarta saat Pemilu.

Baca: Berpotensi Timbulkan Kemacetan, Polisi Awasi Lalu Lintas di Sekitar Pusat Penjualan Takjil

Yang bersangkutan, kata dia, berusaha menyebabkan kerusuhan dan kekacauan dengan aksi terorisme melalui atau menyasar people power.

Sehingga, jenderal bintang satu itu menuturkan SL lebih menunggu momentum apabila terjadi bentrokan atau massa yang chaos dari people power untuk melakukan aksi amaliahnya.

"Dia (SL) membaca dinamika di masyarakat. Apabila ada people power di Jakarta, mereka hajar di jalan. Bisa bom bunuh diri atau aksi terorisme yang menyebabkan fatalitas dan banyak korban meninggal, akhirnya menimbulkan kecurigaan," kata Dedi.

"Terjadi bentrok lebih keras itu yang diinginkan mereka. Jadi menunggu massa chaos dulu," tukasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved