Jumat, 24 April 2026

Ramadan 2026

Ramadhan Jadi Momentum Taubat dan Kembali kepada Allah

Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, tetapi momentum introspeksi diri dan kembali kepada Allah melalui taubat.

Penulis: Widya Lisfianti
Editor: Febri Prasetyo
Surya/Ahmad Zaimul Haq
BERDOA - Jemaah berdoa di depan Ka'bah Masjidil Haram, Mekah, Senin (22/12/2025). Beribadah khususnya memanjatkan doa di Masjidil Haram sangat dianjurkan, terutama di tempat-tempat mustajab seperti Multazam (antara Hajar Aswad & pintu Ka'bah) dan di seluruh area masjid untuk memohon ampunan, keselamatan, serta kebaikan dunia akhirat, dengan banyak doa-doa yang diajarkan dalam Sunnah untuk diucapkan. AHMAD ZAIMUL HAQ 

Ringkasan Berita:
  1. Ramadan mengajarkan manusia untuk melakukan introspeksi diri.
  2. Doa Nabi Adam menjadi teladan cara kembali kepada Allah.
  3. Taubat tidak cukup dengan pengakuan dosa, tetapi juga komitmen berubah.

TRIBUNNEWS.COM - Bulan suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah ritual seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, atau memperbanyak zikir. 

Ramadan juga menjadi momentum penting bagi setiap muslim untuk melakukan introspeksi diri dan kembali kepada Allah.

Hal tersebut disampaikan oleh Nur Salim Ismail, seorang pendakwah, dalam program Mutiara Ramadhan 2026 bertajuk “Ramadhan dan Taubat Nabi Adam AS: Awal Kembali kepada Allah”. 

Tayangan tersebut dipublikasikan melalui kanal YouTube Tribunnews pada 9 Maret 2026.

Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momen untuk mengambil jeda dari kesibukan hidup dan mengetuk batin masing-masing.

Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari manusia sering terlalu lama memerhatikan hal-hal di luar dirinya. 

Padahal, kesempatan hidup juga perlu digunakan untuk menilai diri sendiri dan memperbaiki kesalahan.

Teladan Taubat Nabi Adam

Ia kemudian menyinggung kisah Nabi Adam yang berdoa memohon ampun kepada Allah setelah melakukan kesalahan. 

Doa tersebut tercantum dalam Al-Qur'an yang berbunyi: “Rabbana zalamna anfusana wa illam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.”

Doa itu memiliki makna bahwa manusia mengakui telah menzalimi dirinya sendiri. 

Baca juga: Lailatul Qadar: Puncak Perjalanan Spiritual di Bulan Ramadan

Jika Allah tidak mengampuni dan merahmati, manusia akan termasuk golongan yang merugi.

Menurutnya, hal menarik dari doa tersebut adalah Nabi Adam tidak menonjolkan kedudukannya sebagai nabi atau manusia pertama. 

Sebaliknya, ia memberikan teladan kepada umat manusia tentang cara kembali kepada Allah setelah melakukan kesalahan.

Taubat Bukan Sekadar Mengakui Dosa

Ia menegaskan bahwa taubat tidak cukup hanya dengan mengakui kesalahan. Setelah pengakuan dosa, seseorang juga harus menumbuhkan harapan kepada Allah dan berusaha kembali ke jalan yang benar.

Dalam pandangannya, Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki diri. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved