Kalla Bawa Purnawirawan Jenderal ke Makam Karaeng Galesong

Wakil Presiden (2004-2009) Jusuf Kalla berziarah ke Makam Karaeng Galesong di Malang,

Kalla Bawa Purnawirawan Jenderal ke Makam Karaeng Galesong
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Jusuf Kalla

TRIBUNNEWS.COM, MALANG -- Wakil Presiden (2004-2009) Jusuf Kalla berziarah ke Makam Karaeng Galesong di Malang,  Jawa Timur, Sabtu (16/3/2013). Ziarah ini dilakukan di sela kunjungan kerja Ketua Umum Palang Merah Indonesia itu di Malang.

Staf pribadi Kalla,  Adi Sulhardi,  kepada Tribun, mengatakan, makam yang terletak di Desa Selorejo Kecamatan Ngantang itu seperti kebanyakan makam orang Sulsel. Namun, tidak seperti kebanyakan makam bangsawan Gowa.

Kalla ziarah bersama dengan beberapa pengurus PMI di antaranya Ketua PMI/mantan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo, Letjend Pur Sumarsono, Letjend Pur Peter Wattimena, serta beberapa pengurus PMI Pusat dan Jatim.

“Karaeng Galesong adalah satu kebanggaan masyarakat Sulsel. Keberadaan Makam Karaeng Galesong di sini membuktikan bahwa orang Sulsel bisa menjadi pejuang dan sukses di manapun,” ujar Kalla.
Kalla memanjatkan doa sekitar lima menit di makam itu. Dia juga memperhatikan dengan seksama goresan di nisan Makam Pahlawan Nasional tersebut.

Karaeng Galesong merupakan seorang pejuang Kerajaan Gowa yang turut serta membantu Kerajaan Mataram untuk melawan belanda di Tanah Jawa.

Makam bangsawan Gowa yang bernama lengkap I Maninrori Karaeng Galesong itu masih diliputi legenda. Seorang penjaga makam menuturkan ke Kalla cerita unik sang karaeng. Menurutnya, konon sang karaeng dimakamkan secara berdiri dan "berjalan" sendiri menuju ke peristirahatannya pada 21 November 1679 .

Sejarawan Unhas, Abd Latif MHum, menuturkan, Karaeng Galesong adalah salah satu Panglima Perang Kerajaan Gowa yang menolak Perjanjian Bongaya.
Menurut Latif, kata Karaeng Galesong masih kesohor dan tercatat dalam lontara sampai hari ini, “Yang menyerah hanya Raja Gowa, peperangan tidak harus berakhir.”

Menurut Latif yang juga mahasiswa Program Doktor Universitas Kebangsaan Malaysia, setelah perjanjian itu ditandatangani, Karaeng Galesong tetap menghormatinya sebagai bentuk penghormatan kepada raja. Makanya, Karaeng Galesong bersama Karaeng Karunrung dan Karaeng Naba memilih meninggalkan Gowa ke Tanah Jawa untuk melanjutkan perlawanan ke Belanda,” jelas Latif di Makassar, tadi malam.

“Dengan berjuang di Tanah Jawa, Karaeng Galesong dan kawan-kawan tetap menjaga harga diri Raja Gowa yang menandatangani Perjanjian Bongaya. Mereka tidak melanggar perjanjian itu karena dalam perjanjian Gowa dan pasukannya hanya dilarang melakukan perlawanan terhadap Belanda di wilayah Gowa,” kata Latif menambahkan.

Perjuangan Karaeng Galesong berlanjut ke Tanah Jawa. Ia berlabuh di wilayah timur pulau Jawa dengan jumlah pasukan yang besar. Belum ada data yang jelas namun ada yang mengatakan lebih dari 4.000 prajurit. Di masa itu di wilayah Jawa Timur terdapat dua penguasa besar dan ditakuti, yakni Adipati Anom di Mataram dan Trunojoyo di Madura. Kedua penguasa besar ini saling bermusuhan. Karaeng Galesong diakrabi oleh Trunojoyo dan mendapat restu menikahi keponakan Trunojoyo.

“Makanya, Karaeng Galesong dan Karaeng Naba menetap di Jawa dan tidak pernah pulang lagi ke Makassar. Banyak keturunan mereka di Jawa seperti Dr Wahidin Sudirohusodo, Setiawan Djody, dan beberapa tokoh lainnya,” kata Latif.

Latif mengatakan, Arung Palakka pernah mendatangi Karaeng Galesong membujuknya kembali ke Makassar setelah Perang Makassar berakhir. Namun, mereka tidak ingin lagi pulang kampung. Arung Palakka hanya berhasil membujuk beberapa prajurit Karaeng Galesong untuk kembali ke Makassar.
Kisah kematian Karaeng Galesong juga diabadikan sejarawan Leonard Andaya dari Kolonel Archief, yang catatannya sekarang masih tersimpan rapi di Denhaag.

Masyarakat Bugis Makassar memang banyak bermukim di Malang dan sekitarnya. Karaeng Galesong pun menjadi kebanggaan. Ziarah ke makam sang karaeng merupakan rutinitas warga Bugis-Makassar di sekitarnya.(Tribun Timur/as kambie)

Baca juga:


Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved