• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 1 September 2014
Tribunnews.com

Istri Dahlan Kunjungi Desa Bahasa Ngargogondo

Jumat, 10 Mei 2013 20:38 WIB
Istri Dahlan Kunjungi Desa Bahasa Ngargogondo
Tribun Jogja
Puluhan anak dan ibu-ibu memamerkan kebolehan mereka berbahasa Inggris di hadapan istri Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Nafsiah Sabri, di Desa Bahasa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Jumat (10/5/2013) sore. 

TRIBUNNEWS.COM MAGELANG, - Puluhan anak dan ibu-ibu memamerkan kebolehan mereka berbahasa Inggris di hadapan istri Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Nafsiah Sabri, di Desa Bahasa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Jumat (10/5/2013) sore.

Mereka tampak bersemangat, saat Nafsiah mendekati dan melihat cara mereka menghafal tata kalimat (tenses) dengan jari. Bahkan, mereka tidak canggung, untuk memamerkan kebolehan mereka bercerita dengan bahasa Inggris atau story telling.

Nafsiah terlihat senang melihat antusias anak-anak usia Sekolah Menengah Pertama dan beberapa ibu-ibu yang ikut belajar Inggris di Desa Bahasa tersebut. Ia bahkan dengan senang hati menanggapi permintaan anak-anak untuk berfoto bersama.

“Kami berterima kasih atas sambutan yang hangat,” katanya.

Sementara itu, Perintis Desa Bahasa, Hani Sutrisno mengatakan kedatangan istri Dahlan Iskan tersebut, mewakili sosok Dahlan Iskan yang simpel, sederhana, dan mudah bergaul dengan masyarakat. Dengan kedatangan jajaran Deputi BUMN dan sosok Dahlan Iskan, ia berharap ada semangat untuk anak-anak yang belajar agar bisa maju.

“Terutama bisa semangat untuk tetap fasih berbahasa Inggris dan bisa memajukan bangsa di era perdagangan bebas nantinya,” jelasnya.

Hani mengatakan Desa Bahasa tersebut, merupakan desa bahasa pertama di Indonesia. Pada misi awal tahun 1998, Hani merintis pembelajaran bahasa asing untuk warga sekitarnya. “Latar belakang pendirian desa bahasa ini karena berada di Candi Borobudur yang merupakan objek wisata internasional. Ada sebuah keprihatinan mengapa tidak semua warga bisa berbahasa asing,” kata juara II pemuda pelopor Jawa Tengah tahun 2005 ini.

Ia kemudian memberikan kursus kepada hampir semua warga di desa Ngargogondo dan semua usia mulai dari anak-anak hingga orang tua. Saat itu, kursus diberikannya secara cuma-cuma untuk membangun desanya. “Saya hanya ingin membuat semua orang cas cis cus (fasih) berbahasa inggris dan dengan kursus yang terjangkau ekonomi masyarakat yang bekerja sebagai petani tadah hujan,” imbuh penulis buku pelajaran bahasa Inggris ini.

Hani merasakan untuk kursus bahasa Inggris pun diperlukan pengorbanan yang cukup lama. Ia pernah menabung uang hasil kerja di pabrik konveksi hanya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. Ilmu yang didapatkannya, akhirnya dipergunakan untuk merintis sebuah Desa Bahasa. Pada tahun 2007, Desa Bahasa Ngargogondo diresmikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.

“Ada ratusan lulusan Desa Bahasa yang bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris, pelayaran, guide dan lain sebagainya,” jelasnya.

Desa Bahasa tersebut sempat mengalami mati suri pada tahun 2011 silam. Namun, akhirnya kembali bergerak dan saat ini, pihaknya tengah melayani program eduwisata, dimana banyak diikuti oleh wisatawan dari Kendal, Pati, Wonosobo, Jepara, Semarang dan Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, perserta eduwisata akan berinteraksi langsung dengan wisatawan di candi Borobudur ataupun tempat wisata lain.

“Program ini diikuti selama 6 hari. Banyak peserta dari luar daerah yang ingin praktek langsung berbahasa Inggris dengan turis asing,” jelas pria berputra tiga ini.

Sesuai dengan misi awal, Hani kemudian memberikan kursus gratis bagi lima anak setiap angkatan di tujuh Dusun di Desa Ngargogondo antara lain Parakan, Kuncen, Kujon, Dukuh, Ngargosari, Wagean dan Malangan. Sistem kursus berbahasa asing di Desa tersebut juga menggunakan subsidi silang dari peserta kursus di luar daerah.

Setiap peserta kursus saat ini mengikuti pembelajaran hingga empat bulan per levelnya dengan biaya kursus bervariasi tergantung paket yang ditempuh. Menurut Hani, penarikan biaya tersebut dipergunakan untuk menggaji para pengajarnya.

“Sekarang memang kami kemas secara lebih professional. Harapannya, bahasa asing yang dipelajari secara menyenangkan mampu membuat semua lapisan masyarakat berkembang dan maju. Termasuk, Desa Bahasa bisa berdiri di setiap kabupaten di seluruh Indonesia,” jelasnya. (ais)

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Jogja
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
2 KOMENTAR
1770642 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas