Waspada Beras Diberi Pemutih Baju di Jawa Timur
Mencari makanan yang sehat dan bebas dari bahan berbahaya kini bukan perkara mudah.
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Mencari makanan yang sehat dan bebas dari bahan berbahaya kini bukan perkara mudah.
Meski sudah dilarang dan diketahui bahaya yang ditimbulkan secara luas, penggunaan bahan berbahaya seperti boraks pada bakso, formalin pada tahu dan mie, hingga zat pewarna tekstil atau kertas pada minuman dan kerupuk terus saja dilakukan oleh produsen makanan.
Alasan penggunaan bahan tambahan berbahaya ke dalam makanan atau minuman sangat beragam. Seperti untuk mendapat bentuk, tekstur atau warna yang lebih baik pada makanan yang diproduksi.
Yang bikin miris, bahan berbahaya kini sudah mulai masuk pada makanan pokok masyarakat, yakni beras. Seperti misalnya, beras yang beredar di seluruh kawasan Jawa Timur.
Beras berwarna putih yang selintas terlihat sehat karena bersih, justru membawa ancaman bahaya dari setiap bulirnya. Bahaya tersebut muncul akibat penggunaan bahan pemutih klorin untuk memutihkan beras.
Padahal, klorin digunakan pada pemutih pakaian, deterjen maupun penjernih air yang apabila dikonsumsi secara terus menerus bisa menimbulkan kanker.
"Anda jangan langsung senang jika berhadapan dengan nasi yang warnanya putih sekali," terang Profesor Achmad Subagyo Pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (Unej) kepada Surya, Selasa (29/10/2013).
Menurut Subagyo, bisa saja, nasi yang putih itu didapatkan dari proses penggilingan yang keliru atau yang paling ekstrem malah diberi klorin.
"Selain itu, ada persepsi keliru di masyarakat bahwa beras itu harus pulen atau punel dan putih. Itu keliru," ujar Bagyo. Selain itu, ada persepsi lain yang keliru mengenai beras di masyarakat umum.
Beras bagus kerap disamakan dengan wangi. Padahal, untuk urusan wangi, konsumen juga harus selektif. Karena wangi bisa saja merupakan wangi abal-abal alias wangi semprotan.
"Memang ada varietas padi yang wangi. tetapi bisa saja kan ada wangi beras yang disemprotkan," tambahnya.
Menurut Subagyo, ada dua cara membuat beras menjadi putih. Pertama karena terjadi pengamplasan di kulit gabah ketika proses penggilingan.
Teknik ini sah dilakukan dalam proses penggilingan. Beras terlihat lebih putih karena kulit ari beras ikut mengelupas.
Kemudian ada proses pemutihan beras memakai klorin. Dalam sejumlah kasus, pemutihan beras memakai klorin adalah beras yang kualitasnya jelek kemudian diputihkan memakai klorin.
"Nah, itulah yang berbahaya. Padanannya, kita makan pemutih seperti pemutih baju itulah," tegas pria yang mengambil S2 dan S3 nya di Osaka Perfektur University, Jepang ini. (uni/ab/uus)