Diskusi Buku Tan Malaka Ditolak di Surabaya Tapi Meriah di Kediri

Diskusi bedah buku "Tan Malaka" di Surabaya, dibubarkan massa FPI.

Diskusi Buku Tan Malaka Ditolak di Surabaya Tapi Meriah di Kediri
Surya/didik mashudi
Peserta antre untuk mendapatkan tanda tangan Harry A Poeze, Sabtu (8/2/2014).

Laporan Wartawan Surya Didik Mashudi

TRIBUNNEWS.COM, KEDIRI - Diskusi bedah buku "Tan Malaka" di Surabaya, dibubarkan massa Front Pembela Islam (FPI). Tapi, acara serupa justru berlangsung meriah di Kediri.

Seratus lebih mahasiswa mengikuti diskusi bedah buku "Tan Malaka" di Kampus Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (8/2/2014).

Harry A Poeze, si penulis buku, sebelumnya dijadwalkan menjadi pembicara diskusi bedah buku di Perpustakaan C Surabaya. Tapi, polisi dan TNI mendatangi lokasi sebelum diskusi berlangsung, untuk mengabarkan massa FPI bakal membubarkan acara tersebut.

Karena menimbulkan kerawanan, Harry A Poeze kemudian membatalkan diskusinya. Malam harinya, sekitar 30 anggota FPI mendatangi gedung perpustakaan. Namun diskusi bedah buku urung digelar.

Sementara acara diskusi bedah buku Tan Malaka yang menghadirkan Harry A Poeze di Kediri, berlangsung meriah. Mahasiswa banyak yang antusias mengikuti jalannya diskusi hingga usai.

Malahan, buku-buku Tan Malaka karangan Harry A Poeze laris manis diborong para mahasiswa. Seusai diskusi, mahasiswa juga meminta tanda tangan penulisnya Harry A Poeze.  

Harry Sendiri mengaku terkejut, acaranya sempat dibubarkan FPI. Namun, dia menduga FPI salah paham karena diskusi yang digelar merupakan forum ilmiah bukan kursus pelatihan paham komunis.

"Ada tentara dan polisi yang memberitahu supaya diskusi dibatalkan karena akan didemo massa FPI. Mereka tak senang, karena diskusi kami dituding sebagai kursus komunisme," ungkap Harry A Poeze.

Padahal diskusi bedah buku Tan Malaka Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia merupakan pertemuan ilmiah. "Orang PFI berpendapat, Tan Malaka sebagai orang komunis," ujarnya.

Editor: Reza Gunadha
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help