Pelaku Kekerasan dalam Video di Polewali Ternyata Siswi Madrasah Aliyah
Pelaku dalam video diidentifikasi bernama SNR (17), warga Desa Tammajarra, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar
Editor:
Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, POLEWALI MANDAR - Identitas satu dari dua siswi pelaku kekerasan dalam video yang mempertontonkan perkelahian saling jambak rambut dan cekik leher di Polewali Mandar akhirnya terungkap. Video berdurasi dua menit dan dua detik itu sebelumnya sempat menghebohkan warga setempat.
Pelaku dalam video diidentifikasi bernama SNR (17), warga Desa Tammajarra, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar. SNR adalah salah satu siswi dari Madrasah Aliyah (MA) Tinambung. Sedang satu siswa lain yang diduga berkelahi lantaran berebut pacar, hingga kini belum diketahui identitasnya.
Kepala MA Tinambung, Syarbin yang semula membantah pelaku kekerasan itu sebagai muridnya, belakangan mengakui SNR adalah siswanya. MA Tinambung mengaku kaget dan terpukul dengan kejadian itu.
"Selama ini, tidak pernah ada kasus seperti itu yang dialami anak didik kami. Makanya, saya kaget dan hampir tidak percaya bahwa itu adalah siswi kami," ujar Syarbin.
Menurut Syarbin, saat ini pihak sekolah sudah tidak bisa lagi menghubungi SNR. Sebab, yang bersangkutan sudah putus sekolah. Bahkan, dikabarnya SNR telah menikah.
Syarbin menuturkan, SNR masuk di sekolah itu saat kelas dua. Berdasarkan catatan kehadirannya SNR memang jarang masuk sekolah. Syarbin memperkirakan video perkelahian itu direkam setengah tahun lalu.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Polman, Andi Parial, mengaku sangat prihatin dengan aksi kekerasan yang dilakukan pelajar itu. Menurut dia, kasus perkelahian antara sesama pelajar tidak bisa dibiarkan, karena akan menciderai citra pendidikan.
Beredarnya video kekerasan tersebut juga mendapat tanggapan anggota DPRD Polman yang membidangi pendidikan, Sahabuddin. Dia mengaku sangat prihatin dengan makin sering beredarnya kasus video kekerasan di sekolah, termasuk video perkelahian antara dua siswi tersebut.
"Kasus kekerasan pelajar sekarang ini memang lagi marak. Ini tidak bisa dibiarkan dan pihak sekolah harus bertanggungjawab dengan kejadian seperti itu," tegasnya.