Anak Pemulung dari Lamongan Jadi Mahasiswa Kedokteran Undip
Sony Budianto masih belum percaya bahwa dirinya baru saja resmi menjadi seorang mahasiswa Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang
Editor:
Sugiyarto
Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sony Budianto masih belum percaya bahwa dirinya baru saja resmi menjadi seorang mahasiswa Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, setelah diresmikan langsung oleh Rektor Prof Yos Johan Utama dalam upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Stadion Undip, Tembalang, Selasa (25/8/2015).
Pasalnya remaja asal Lamongan itu semula tidak yakin, dirinya yang serba kekurangan dalam hal ekonomi bisa menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran yang terkenal mahal. Sony merupakan putra dari pasangan Sugianto dan Budiyanti.
"Bapak dahulu memang pemulung, sekarang beliau masih bekerja sebagai buruh serabutan, Ibu tinggal di Semarang dan tidak bekerja," jelasnya saat menjawab pertanyaan Tribun Jateng.
Mahasiswa lulusan SMAN 1 Lamongan itu menceritakan awalnya dia pesimis bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan hingga akhirnya dia mendapat informasi dari guru BK tentang apa itu beasiswa bidikmisi.
"Dari situ saya optimis dan langsung melengkapi berkas persyaratan, dan langsung memilih kedokteran karena saya paling suka dengan pelajaran Biologi," jelas peraih nilai 100 di mapel Biologi tersebut.
Impiannya menjadi Dokter juga untuk membantu sesama warga yang kurang beruntung dalam hal Ekonomi untuk mendapat pelayanan kesehatan yang prima.
"Meski saya pribadi belum pernah mengalami sakit hingga dipersulit dalam pelayanan kesehatan, namun tekat saya menjadi dokter tetap untuk membantu warga yang kurang beruntung," ujar dia.
Meski dia berasal dari golongan kurang mampu, namun tidak boleh kuliah sambil kerja. Pembantu dekan I Prof Zaenuri di sela-sela wawancara bersama Sony Budianto mengatakan, bidikmisi tidak sekadar beasiswa pendidikan saja namun sudah termasuk biaya hidup.
"Kalau misal semester satu nanti Indeks Prestasinya bisa lebih dari tiga justru akan berkesempatan meraih beasiswa lainnya," jelas Zaenuri.
Sony mengaku hidup sendiri sejak orangtuanya bercerai ketika dia masih kelas 2 SMA. Kala itu dia sempat bingung harus menggantungkan hidup ke mana karena Ibu nya kembali ke Semarang.
Mendengar hal itu Prof Zainuri langsung bertanya kepada Sony tentang apa keahlian ibu remaja berprestasi itu. "Ibu pengennya berdagang Pak," jawab Sony.
Guru besar Ilmu kemaritiman itu kemudian berkeinginan untuk merekrut ibunda Sony untuk ikut bergabung dalam salah satu dari 15 unit usaha Undip dalam bentuk PTNBH.
"Akan ada 15 Unit usaha seperti Undip Food, Undip Health, dan salah satunya Undip Centrepreneur, nanti Ibunda Sony bisa berdagang dan membuat kantin disana," bebernya.
Prof Zaenuri menambahkan, akan selalu ada jalan untuk mahasiswa yang mempunyai keinginan keras dalam meraih pendidikan.
"Syaratnya hanya tiga, jangan malu, dan jangan bohong, dan usaha semaksimal mungkin," pungkasnya. (tribunjateng/rival almanaf)