Tribunners / Citizen Journalism

Kampanye Hitam Buat Prabowo

Entah apa maksud di balik atas beredarnya lembaran uang rupiah kertas lima puluh ribuan atau lainnya yang dibubuhi tulisan Prabowo.

Kampanye Hitam Buat Prabowo
ist

Oleh: Alex Palit

Entah apa maksud di balik atas beredarnya lembaran uang rupiah kertas lima puluh ribuan atau lainnya yang dibubuhi tulisan “Prabowo – Satrio Piningit, Heru Caka, Ratu Adil”, yang langsung ditanggapi oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra – Prabowo Subianto, yang namanya tertera di lembaran uang kertas tersebut, sebagai bentuk kampanye hitam (black campaign) yang diarahkan ke dirinya dan partainya.

Menyoal kampanye hitam yang arah buat Prabowo sebetulnya bukan kali pertama. Sudah acapkali dilakukan, baik secara terang-terangan, tersembunti dan terselubung, juga dilakukan dengan cara-cara trial by the press seperti lewat pembentukan opini publik. Sudah tentu dengan mudah dapat ditebak bahwa semua semua serangan kampanye hitam ini tidak lepas dari pencapresan Prabowo di Pilpres 2014, yang sengaja dilakukan oleh lawan politik atau pihak-pihak yang tidak menghendaki Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini jadi capres 2014.

Beragam cara atau modus kampanye hitam yang dilakukan untuk mengganjal melaju Prabowo yang elektabilitas dan popularitasnya terus kian berkilau dalam memenangi Pilpres 2014. Penghembusan kembali isu stigmatisasi atas tudingan keterlibatan bahkan namanya pun disebut-sebut sebagai dalang penculikan aktivis pro demokrasi ultra kanan 1997/1998, penembakan mahasiswa Trisakti, otak penggerak Kerusuhan Mei 1998 dan tuduhan hendak melakukan kudeta Mei 1998, yang lebih dalam berupa opini ketimbang fakta ini dinilainya sebagai pembunuhan karakter (character assassination) atas dirinya.

Begitupun dengan hasil sebuah survei yang menolak pencapresan dirinya di “Survei Opinion Leader Mencari Lawan Jokowi” maupun beredarnya lembaran uang kertas dibubuhi tulisan “Prabowo – Satrio Piningit, Heru Caka, Ratu Adil”, sebagai bentuk kampanye hitam (black campaign) yang diarahkan ke dirinya dan partainya.

Masih segar dalam ingatan, tahun lalu dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Ketua DPP Bidang Komunikasi Politik Partai Amanat Nasional (PAN) – Aria Bima Sugiarta mengkritisi pencalonan Prabowo jadi capres 2014 yang diusung oleh Partai Gerindra. “Apa reward Prabowo?” katanya. Pernyataan Ketua DPP Bidang Komunikasi Politik PAN mendapat reaksi dari Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani yang menyebutnya sebagai kampanye hitam terhadap Prabowo sebagai bentuk ketakutan atas elektabilitas dan popularitas capres dari Partai Gerindra yang ngejos.

Atas pernyataan ini, Ahmad Muzani juga berkomentar bahwa partainya tidak akan melakukan cara-cara ikut cawe-cawe rumah tangga orang lain sebagaiman dilakukan Ketua DPP PAN tersebut yang disebutnya sebagai kampanye hitam terhadap Prabowo. “Partai Gerindra akan melakukan hal-hal positif dengan menciptakan gagasan dan ide-ide yang bisa meningkatkan elektabilitas Prabowo Subianto,” tandas Muzani atas pernyataan Aria Bima yang dianggapnya sebagai bentuk kampanye hitam terhadap Prabowo.

Begitu halnya ketika menanggapi beredaranya lembaran dibubuhi tulisan “Prabowo – Satrio Piningit, Heru Caka, Ratu Adil”, ia langsung menanggapi sebagai bentuk kampanye hitam (black campaign) yang diarahkan ke dirinya dan partainya. Dan Prabowo menulis di akun fesbuknya, “Kalau api kita lawan dengan api, maka akibatnya adalah api yang lebih dahsyat. Api harus kita lawan dengan air. Mereka yang menebarkan kebencian, pasti akan rugi.”

Semua itu adalah bagian dari ujian dan cobaan yang kini dihadapi Prabowo yang sedang digembleng di Kawah Candradimuka sebagaimana dalam cerita Gatotkaca di kisah perwayangan Mahabarata untuk menjadikan dirinya sebagai ultraman yang siap melaju sebagai Capres 2014. Sebelum kesatria mandraguna dan memperoleh kedigdayaan, Gatotkaca terlebih dahulu menjalani penggemblengan dan ditempah yang namanya Kawah Candradimuka. Aneka ujian, cobaan dan tantangan untuk menjadikan dirinya sebagai kesatria yang kuat dan tahan banting sampai akhirnya menjadi superman ‘otot kawat balung wesi’, dan menjadikan dirinya sebagai superhero melawan bala Kurawa.

Apapun bentuk serangan kampanye hitam yang diarahkan kepada Prabowo dan partainya, di sini kita pun diingatkan pada sebuah peribahasa; Becik ketitik ala ketara. Dan satunya lagi peribahasa; Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpah.

* Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”

Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved