Tribunners / Citizen Journalism

Persekusi Digital

Karena akan memberikan dampak munculnya rasa ketidakadilan di dalam kehidupan Berbangsa. Persekusi pun dapat terjadi dalam ranah sosial media.

Persekusi Digital
ISTIMEWA
Poempida Hidayatulloh 

Oleh Poempida Hidayatulloh
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Istilah persekusi makin sering kita dengar beberapa waktu belakangan ini. Istilah ini juga menghiasi sejumlah berita yang menjadi perhatian secara nasional. Sebenarnya apa itu persekusi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Sementara kata aktifnya yakni memersekusi yang artinya menyiksa atau menganiaya.

Di dalam konteks yang lebih luas, Persekusi dapat diartikan main hakim sendiri oleh seseorang atau pun sekelompok orang terhadap orang lain tanpa adanya proses peradilan.  Persekusi sangat berbahaya jika dibiarkan. Karena akan memberikan dampak munculnya rasa ketidakadilan di dalam kehidupan Berbangsa.
Persekusi pun dapat terjadi dalam ranah sosial media.

Di mana dengan mudahnya kini orang dapat menghakimi seseorang dengan melakukan basis gerakan melalui sosial media.

Baca: Poempida Hidayatullah: BPJS Ketenagakerjaan Bisa Membuka Perwakilan di Luar Negeri

Tanpa melalui suatu proses yang adil dan seimbang seseorang akan sangat mudah dipersekusi secara digital.
Negara harus selalu hadir dalam hal melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 45, termasuk dalam masalah Persekusi ini.

Hak mengeluarkan pendapat yang juga dilindungi oleh UUD 45 haruslah diamalkan dengan cara yang baik dan bertanggung jawab oleh setiap warga negara Indonesia, tanpa menzalimi sebagian warga negara lainnya.
Hukum haruslah ditegakkan secara penuh dan konsekuen.

Di mana dalam hal persekusi Digital ini Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) merupakan manifestasi perlindungannya.

Persekusi Digital ini dapat saja dibungkus secara cantik dengan memakai kedok social justice dengan seolah-olah memberikan sanksi sosial bagi korban persekusi tersebut.

Justice atau pun keadilan yang benar haruslah terjadi dari suatu proses yang seimbang berbasis kesetaraan. Tidak boleh di dalamnya terdapat unsur penzaliman atau character assassination.

Hukuman yang adil terhadap seseorang harus terjadi berdasarkan proses peradilan yang dilindungi oleh perundang-undangan. Bukan dikarenakan tuduhan atau opini orang atau sekelompok orang.

Baca: Penguatan Bisnis Melalui Transformasi Digital

Halaman
12
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved