Kehadiran RS Apung China di Pasifik Tuai Tudingan Negatif
Rumah sakit apung China, yang dikenal sebagai Peace Ark, telah meninggalkan Pelabuhan Port Moresby dan berlayar menuju Vanuatu, Fiji…
Meski Peace Ark mungkin membuat terobosan bagi kampanye yang dilakukan China, kapal itu masih tertinggal jauh di belakang rival terbesarnya.
"Untuk setiap inisiatif positif yang kami dengar ada yang negatif, seperti penangkapan ikan ilegal," kata Sanchez.
"AS memiliki Hollywood, mereka punya budaya pop. Setiap orang di Meksiko, atau Argentina, atau Gabon, atau Tanzania, atau Fiji telah menonton setidaknya satu film Hollywood," katanya.
"Tentu saja inisiatif seperti Peace Ark adalah inisiatif penting, tapi masih terlalu banyak yang harus dilakukan China untuk mengejar ketertinggalan."
Meski kehadiran China telah meningkat di Pasifik, menjelang pertemuan AUSMIN (Konsultasi Tingkat Menteri Australia-AS) pekan depan, Kementerian Luar Negeri China telah menolak klaim "campur tangan" di wilayah itu.
Photo:
Analis keamanan mengatakan, misi kemanusiaan ini adalah cara untuk memenangkan hati dan pikiran warga Pasifik. (Reuters: Carlos Barria)
Pekan ini, Fairfax Media mengutip Asisten Menteri Pertahanan untuk Asia Timur dan Pasifik, Randy Schriver, yang mengatakan AS "lengah" oleh kampanye China untuk menggunakan pengaruh atas negara-negara kepulauan di Pasifik Selatan, dan menyarankan masalah ini masuk dalam agenda pertemuan AUSMIN.
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dan Menteri Pertahanan James Mattis akan menyambut rekan-rekan mereka dari Australia, yakni Julie Bishop dan Marise Payne di California pada 23 dan 24 Juli.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying, mengatakan China berharap niat nyata pertemuan itu adalah "untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional".
"Kami ingat bahwa banyak pemimpin negara di negara-negara Pasifik Selatan telah mengklarifikasi bahwa tidak seperti beberapa negara, China benar-benar menghormati keinginan masyarakat dan pemerintah di negara-negara pulau ini," katanya.
Photo:
China makin menunjukkan kemunculannya di Papua Nugini. Jumlah bantuan luar negeri mereka tak diumumkan secara publik namun menurut informasi, salah satu proyek jalan utama dan Gedung konvensi bernilai sekitar 80 juta dolar (atau setara Rp 800 miliar). (ABC News: Eric Tlozek)