ABC World

Korut Tolak Serahkan Nuklir Jika Sanksi Bagi Negaranya Masih Diberlakukan

Menteri Luar Negeri Korea Utara kepada sidang umum PBB mengatakan bahwa tidak mungkin negaranya akan menyerahkan senjata nuklir mereka…

Menteri Luar Negeri Korea Utara kepada sidang umum PBB mengatakan bahwa tidak mungkin negaranya akan menyerahkan senjata nuklir mereka secara sepihak sementara sanksi terhadap negaranya tetap diberlakukan.

Menlu Korea utara, Ri Yong-ho menyampaikan sikap Korea Utara itu dalam Sidang Umum tahun Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan menyatakan bahwa berlanjutnya sanksi semakin memperdalam ketidakpercayaan Korea Utara terhadap Amerika Serikat.

Dia mengatakan bahwa Korea Utara telah mengambil "langkah-langkah niat baik yang signifikan" dalam satu tahun terakhir, seperti menghentikan uji coba nuklir dan rudal, membongkar tempat uji coba nuklir dan berjanji tidak akan mengembangkan senjata nuklir dan teknologi nuklir.

"Namun, kami tidak melihat respon yang sesuai dari AS," katanya kepada para pemimpin dunia di New York.

"Tanpa kepercayaan di pihak AS tidak akan ada kepercayaan pada keamanan nasional kami dan dalam keadaan seperti itu tidak akan mungkin kami secara sepihak melucuti senjata nuklir kami terlebih dahulu."

Sementara Ri mengomentari keluhan Korea Utara tentang penolakan Washington terhadap pendekatan "bertahap" terkait denuklirisasi di mana Korea Utara akan diberi imbalan karena mengambil langkah-langkah bertahap, pernyataannya tampak signifikan karena tidak sepenuhnya menolak denuklirisasi sepihak seperti yang telah dilakukan Pyongyang di masa lalu.

Korea Utara telah berupaya mencari cara resmi untuk mengakhiri Perang Korea yang berlangsung tahun 1950-1953, tetapi Amerika Serikat mengatakan Pyongyang harus menyerahkan senjata nuklirnya terlebih dahulu.

Washington juga menolak seruan untuk melonggarkan sanksi internasional yang keras terhadap Korea Utara.

"AS bersikeras pada mekanisme \'denuklirisasi-lebih dahulu\' [oleh Korea Utara] dan meningkatkan tingkat tekanan mereka dengan menerapkan sejumlah sanksi untuk mencapai tujuan mereka dengan cara koersif, dan bahkan keberatan dengan \'pernyataan perang telah berakhir,\'" kata Ri.

"Persepsi bahwa sanksi dapat membawa kami menyerah adalah impian mewah dari orang-orang yang tidak memahami Korea Utara. Tapi masalahnya adalah bahwa sanksi lanjutan yang mereka terapkan semakin memperdalam ketidakpercayaan kita."

Menlu Korea Utara Ri tidak menyebutkan rencana untuk dilakukannya KTT kedua antara Kim Jong-un dan Donald Trump yang sempat disoroti oleh Presiden AS itu dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada awal pekan ini.

Namun menteri itu menyoroti tiga pertemuan antara Kim dan pemimpin Korea Selatan Moon Jae-in dalam lima bulan terakhir dan menambahkan: "Jika pihak yang terlibat dalam perundingan untuk masalah denuklirisasi ini adalah Korea Selatan dan bukan AS, denuklirisasi di semenanjung Korea tidak akan menemui jalan buntu seperti itu. "

Meski begitu, nada pidato Ri secara dramatis berbeda dari tahun lalu, ketika dia mengatakan kepada Majelis Umum PBB yang menargetkan daratan AS dengan roket Korea Utara tidak dapat dihindari setelah Presiden Trump menyebut Presiden Korea Utara Kim sebagai seorang "manusia roket" pada sebuah misi bunuh diri.

Trump mengatakan dia \'jatuh cinta\' dengan Kim

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved