TNI Tanggapi Dingin Pembentukan Tentara West Papua
Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak menanggapi serius kabar terbentuknya Tentara West Papua yang dikomandoi oleh United Liberation…
Dia menanggapi santai klaim Benny Wenda, bahwa dengan terbentuknya Tentara West Papua ini maka mereka telah sah menjadi negara kesatuan militer dan politik dalam penantian.
"Tidak usah mimpi di siang harilah. Saya tidak bermaksud menggurui Benny Wenda. Tapi perlu diketahui bersama kalau pembentukan suatu negara itu tidak cukup dengan klaim sepihak. Tapi perlu unsur pendukung meliputi wilayah, rakyat dan pengakuan internasional," jelasnya.
"Faktanya kedaulatan NKRI dari Sabang sampai Merauke sudah diakui oleh negara di seluruh dunia dan sudah dapat legalitas oleh badan dunia tertinggi PBB melalui Resolusi PBB 2504. Dan resolusi itu sampai saat ini masih berlaku dan belum pernah dikoreksi apalagi dicabut. Dan itu adalah kekuatan hukum tertinggi di dunia," tegasnya.
Tidak solid dan terdesak
Sementara itu pengamat masalah Papua mencurigai pembentukan Tentara West Papua ini sebagai klaim sepihak dari Benny Wenda yang diragukan kekuatannya dalam mendukung kampanye prokemerdekaan.
Ketua Tim Kajian Papua pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Adriana Elizabeth menjelaskan hal ini sepertinya hanya aksi sepihak.
"Saya kebetulan sedang di Papua dan belum mendengar apapun dari sumber saya mengenai manuver ini," katanya kepada ABC.
"Bagaimana pun Benny Wenda sebagai ketua ULMWP harus berkoordinasi dengan faksi-faksi lain, karena di Papua kelompoknya banyak dan agenda politik mereka berbeda-beda," tambahnya.
"Jadi kalau klaim sepihak begini, belum tentu yang lain setuju. Jadi saya kira klaimnya kurang solid," ujar Adriana.
Dia menambahkan dirinya juga mencurigai manuver ini hanya bagian dari aksi kelompok ULMWP untuk menggunakan momentum 1 Mei lalu.
Hal ini, kata Adriana, terlihat pendekatan yang digunakan dengan menggabungkan diri bersama kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang dipimpin Egianus Kogoya.
Kelompok Kogoya ini menyerang situs konstruksi pada bulan Desember dan menewaskan 31 orang.
Menurut Adriana, dengan bergabung bersama kelompok itu, akan menjadi kontra produktif bagi perjuangan ULMWP yang selama ini menempuh cara-cara politik dan diplomatik untuk mencapai kemerdekaan Papua.
"Apa yang dilakukan kelompok Egianus Kogoya itu jelas menyalahi konsensus ULMWP yang sejak dideklarasikan menekankan pesan bahwa perjuangan yang mau dilakukan tidak dengan cara kekerasan lagi," katanya.
"Tapi kalau 3 kelompok ini bergabung apakah ini bagian dari strategi ULMWP untuk mengurangi aksi-aksi kekerasan atau sebaliknya? Tapi kalau itu mengatasnamakan Benny Wenda sendiri, saya khawatir yang lain tidak setuju. Karena di Papua kelompoknya banyak dan agenda politik mereka berbeda," tambahnya.