ABC World

Imbas Kebijakan COVID yang Ketat di China, Apple Akan Memindahkan Produksi iPhone ke India

Apple akan memindahkan 25 persen produksi iPhone ke luar China akibat kebijakan COVID-19 terlalu ketat yang masih diterapkan di China.

Apple akan mulai memproduksi iPhone 14s di India, di tengah meningkatnya kritik atas dampak ekonomi dan sosial dari kebijakan nol kasus COVID-19 di China.

Sebagian besar smartphone dan tablet keluaran Apple dirakit oleh kontraktor yang memiliki pabrik di China.

Tapi pada tahun 2020, Apple mulai meminta pemindahan produksi ke beberapa lokasi di Asia Tenggara atau tempat lain akibat pandemi COVID-19 yang mengganggu aliran produksi global.

"Kami senang bisa memproduksi iPhone 14 di India," kata Apple dalam sebuah pernyataan, Senin kemarin (26/09).

Apple belum memberikan rinciannya, tapi sejumlah laporan menyebutkan perusahaan tersebut juga berencana untuk merakit tablet iPad dan earphone nirkabel di Vietnam.

Sementara itu, perusahaan lain terus mempertahankan produksinya di China untuk memenuhi kebutuhan domestik, sambil juga mengalihkan produksi barang untuk ekspor ke negara lain akibat kenaikan upah dan biaya produksi, serta sulitnya pimpinan perusahaan asing mengunjungi China karena kebijakan ketat yang masih diberlakukan.

'Semuanya saling terkait'

Profesor Yang Dali dari Universitas Chicago, yang menulis tentang politik dan ekonomi di China, mengatakan dampak kebijakan China untuk ambisi nol kasus COVID-19 telah berdampak signifikan bagi ekonomi.

Angka pendapatan domestik di China yang positif tidak sepenuhnya mencerminkan kesulitan ekonomi yang sedang dihadapinya, kata Profesor Yang.

"Pariwisata, misalnya, telah hancur," katanya.

"Banyak bisnis yang membutuhkan kontak manusia sangat terpengaruh dan tingkat pengangguran juga sangat tinggi.

"Semuanya saling terkait."

Kebijakan di China jarang dikritik warganya sendiri, tetapi sebuah lembaga di China, pusat penelitian Anbound, baru-baru ini mengeluarkan laporan yang mengatakan kebijakan nol COVID China harus diubah untuk mencegah "ekonomi yang mandek".

Laporan itu kemudian disensor.

"Orang-orang yang kehilangan bisnisnya tidak dapat membayar cicilan rumah mereka, yang juga menyebabkan kontraksi di sektor property dan berdampak pada pasar," kata Profesor Yang.

Halaman
1234
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved