Kamis, 7 Mei 2026
ABC World

Dinas Intelijen Australia Punya Peran Rahasia dalam Membantu Mengungkap Pelaku Bom Bali Tahun 2002

Editor politik ABC Andrew Probyn mengungkapkan peran penting dinas intelijen Australia dan kerja sama dengan kepolisian Indonesia…

Tayang:

"Bachtiar bertanya seberapa cepat saya bisa mengirimkan petugas kami ke lapangan," katanya yang sudah memiliki hubungan kerja sama dengan sang jenderal dan saling percaya selama beberapa tahun.

Kebetulan juga, petugas khusus dari AFP sedang dalam perjalanan ke Jakarta untuk memberikan pelatihan di malam ledakan bom Bali.

Beberapa bulan sebelumnya, saat sedang bermain golf bersama di kota Perth, Jenderal Bachtiar mengatakan kepada Mick jika ndonesia masih tertinggal dalam soal penyelidikan forensik.

Para petugas khusus tersebut segera diarahkan ke Denpasar bersama dengan beberapa polisi Australia yang sudah ada di Bali sebelumnya.

'Operation Alliance' kemudian dibentuk dengan pihak Australia yang diketuai oleh Graham Ashton.

Sementara dari pihak Indonesia diwakili oleh Made Mangku Pastika yang dikenal baik oleh Mick karena pernah sama-sama menjalani pelatihan di tahun 1980-an.

'Jawaban akan datang dari langit'

Bahkan sesudah petugas penyelidik forensik terbaik di dunia berada di lokasi kejadian, bom Bali tetap sangat susah untuk diungkap.

Ledakan di Sari Club begitu kuatnya sehingga menciptakan lubang dalam yang kemudian tergenang air.

Ada juga masalah budaya, dengan mayoritas penduduk Muslim, pemerintah Indonesia menghendaki agar tubuh korban bisa dimakamkan dalam waktu 24 jam setelah mereka meninggal.

Setelah mengalami kesulitan selama dua minggu, satu-satunya bukti kuat yang dimiliki oleh Mangku Pastika dan Graham adalah sebuah mobil van mini berwarna putih yang digunakan membawa bom ke Sari Club dengan nomor mesin dan chassis sudah dihapus dan  informasi mengenai kemungkinan bahan yang digunakan untuk membuat bom.

Setelah pertemuan dengan Kepala Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN) di Jakarta yang dilakukan bersamaan dengan Direktur Jenderal ASIS (Dinas Intelijen Australia di luar negeri) Allan Taylor  dan bos ASIO (Badan Intelijen Australia di dalam negeri) Dennis Richardson, Mick merasa tim Mangku Pastika mendapat laporan yang kurang memadai dari dinas intelijen Indonesia.

"Penjelasan mereka tidak cocok dengan apa yang ada dari lokasi kejadian, penjelasan mereka banyak yang tidak benar," kata Mick.

Jelas bahwa penyelidikan mengenai bom Bali ini memerlukan kekuatan penyelidikan yang betul-betul spesial.

"Pastika sudah mengetahui hal tersebut, dia melihat ke langit dan berkata 'jawabannya akan datang dari langit'," kata Mick.

"Saya tahu dia penganut Hindu yang taat. Dia berdoa setiap hari. Dan Saya mengatakan 'maksudnya jawaban dari Tuhan?' dan dia mengatakan 'bukan, bukan, bukan dari satelit."

Tanda-tanda datang dari seismogram dan ponsel Nokia

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved