Ambil Peran Penting, Ini Kiprah Bea Cukai di Organisasi Kepabeanan Dunia

Bea Cukai Indonesia berperan dalam The 86th Policy Commission dan The 139th/140th Council Session

Editor: Content Writer
Bea Cukai
Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto di The 86th Policy Commission dan The 139th/140th Council Session 

TRIBUNNEWS.COM - Bergabung ke dalam World Customs Organization (WCO) sejak 30 April 1957, Bea Cukai terus menunjukkan peran aktifnya dalam setiap kegiatan organisasi, baik kegiatan di Brussel, maupun kegiatan yang dilaksanakan di wilayah Asia-Pasifik.

Perlu diketahui bahwa WCO adalah organisasi dunia antar pemerintah yang independen yang memiliki misi untuk mendorong efektivitas dan efisiensi administrasi pabean dalam mencapai tujuannya, yaitu memberikan kemudahan perdagangan, perlindungan kepada masyarakat, dan mengumpulkan penerimaan bagi pemerintah.

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto mengatakan, sejak 1 Juli 2020 Bea Cukai memegang peranan penting sebagai WCO Asia Pacific Vice-chair (WCO A/P Vice-chair) periode 2020-2022. Vice-chair merupakan koordinator setiap kawasan yang mempunyai tugas utama mengoordinasi kegiatan, mendorong kemajuan negara anggota, serta mewakili dan menyuarakan kepentingan regional dalam kerja sama WCO maupun forum kerja sama internasional lainnya.

“Dengan menjadi Vice-chair, Bea Cukai berkesempatan untuk menunjukkan kemampuan menjadi pemimpin bagi 32 negara anggota di kawasan A/P yang beranggotakan beberapa negara maju seperti Australia, China, Jepang dan Korea,” ungkapnya.

Bertindak sebagai WCO A/P Vice-chair, Bea Cukai turut berpartisipasi secara fisik di Kantor Pusat WCO, Brussel dalam rangkaian pertemuan The 86th Policy Commission dan The 139th/140th Customs Cooperation Council (Council Session) pada 20-25 Juni 2022. Dalam kegiatan tersebut, Bea Cukai turut menentukan berbagai kebijakan penting WCO, pembinaan hubungan antarinstansi kepabeanan dunia, serta kolaborasi peningkatan pelayanan dan pengawasan.

Policy Commission (PC) merupakan pertemuan antaranggota Komite Kebijakan WCO yang bertindak sebagai steering group untuk membahas isu kebijakan, praktik dan prosedur WCO sebelum diangkat ke pertemuan tertinggi WCO. Sedangkan Council Session adalah badan tertinggi WCO yang bertugas untuk mengambil keputusan final atas segala isu dan aktivitas WCO di mana seluruh badan WCO melapor kepada council. “Berbeda dengan PC, setiap anggota WCO berhak untuk mengikuti pertemuan Council Session. Singkatnya, merupakan pertemuan tertinggi antakepala atau pimpinan administrasi pabean anggota WCO,” terang Nirwala.

Dalam pertemuan The 86th Policy Commission dan The 139th/140th Council Session dilakukan pembahasan terkait isu-isu penting seperti rencana aksi penanganan Covid-19, program kerja WCO, perpanjangan wewenang kelompok kerja, rencana strategis WCO 2022-2025 dan rencana implementasi 2022-2023, strategi data WCO, e-commerce, green customs, fragile borders, dan pengaturan praktik kerja saat kondisi pandemi.

Nirwala menambahkan, dalam Council Session turut dibahas beberapa agenda lain seperti laporan komite-komite teknis WCO dalam hal pengembangan kapasitas, tarif dan perdagangan, ketentuan asal barang, nilai pabean, nomenklatur dan klasifikasi, kepatuhan, fasilitasi perdagangan, serta masalah keuangan dan anggaran.

Di akhir pertemuan Council Session juga diselenggarakan pemilihan Wakil Sekretaris Jenderal, Chairperson dan Vice-chairperson Finance Committee, Chairperson dan Vice-chairperson Audit Committee, Chairperson of the Council, serta penetapan anggota beberapa komite WCO seperti anggota Policy Commission, Finance Committee, dan Audit Committee. “Agenda ini sekaligus menjadi momentum berakhirnya masa jabatan Indonesia sebagai WCO Asia Pacific Vice-chair dan menetapkan Australia sebagai Vice-chair periode 2022-2024,” tegas Nirwala.

Menjabat sebagai WCO A/P Vice-chair periode 2020-2022, Bea Cukai dihadapkan dengan tantangan kondisi yang tidak ideal akibat Covid-19. Namun Bea Cukai terus berupaya memfasilitasi dan menjalankan tugasnya, sehingga berbagai kegiatan baik bersifat regional atau global berhasil dijalankan hingga akhir periode jabatannya di tahun 2022.

“Selama menjabat, Bea Cukai berhasil menyelenggarakan berbagai pertemuan regional seperti Regional Contact Points (RCP) Meeting, Regional Heads of Customs Administration (RHCA) Conference, maupun membentuk Regional Private Sector Group Asia-Pacific (RPSG AP) sebagai wadah komunikasi antara pemerintah dengan sektor swasta di lingkup Asia-Pasifik. Sedangkan dalam forum global, Bea Cukai turut ambil bagian dalam Permanent Technical Committee, Policy Commission, Global Meeting for Regional Structures, dan beberapa agenda internasional lainnya,” ujar Nirwala.

Untuk memastikan transisi yang mulus, Bea Cukai turut mendukung Australia sebagai Vice-chair periode 2022-2024 dengan berbagai upaya, seperti membarui operation manual sebagai panduan operasional khususnya terkait penyelenggaraan virtual meeting jika kondisi krisis seperti Covid-19 yang membuat pertemuan fisik tidak dapat dilakukan, serta Bea Cukai bersedia melakukan pertemuan lanjutan untuk membahas transfer office yang lebih detail.

“Kami yakin, bahwa dengan pengalaman sebagai Vice-chair pada periode-periode sebelumnya serta kepemimpinannya di WCO, Australia akan dapat memimpin kawasan Asia-Pasifik dengan baik, Bea Cukai juga berkomitmen untuk senantiasa memberikan dukungan kepada Australia,” pungkas Nirwala.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved