Sabtu, 11 April 2026

Kontroversi IPO Krakatau Steel

Forum Serikat Pekerja BUMN Duga Ada Jatah Oknum Pejabat-Parpol

Ketua Umum Forum Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu, Arief Poyuono, mendesak aparat penegak hukum, terutama Komisi...

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Anwar Sadat Guna
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hasanuddin Aco

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Ketua Umum Forum Serikat Pekerja (FSP) BUMN Bersatu, Arief Poyuono, mendesak aparat penegak hukum, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelidiki proses IPO (initial public offering) atau penawaran saham perdana PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Arief juga mendesak agar underwriter yang menangani IPO Krakatau Steel (KS) transparan dalam menetapkan harga saham perdana yang terbilang rendah Rp 850 per lembar. Pihaknya pun mempertanyakan alokasi 20 persen jatah saham untuk publik.

"Untuk hal ini, saya pikir KPK juga harus selidiki perusahaan underwriter dan kepada siapa 20 persen saham itu dijual. Lalu kenapa harganya Rp 850 per lembar saham. Jangan-jangan ini pola yang sengaja dimainkan oknum pejabat dan parpol (partai politik) untuk menumpuk uang lewat (permainan) saham," kata Arief ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Selasa (02/11/2010).

Seperti diketahui, KS adalah perusahaan BUMN yang memproduksi baja  kelas atas di Indonesia. KS berencana melepas 3.155.000.000 saham baru ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010.

Saham perdana (initial public offering/IPO) yang ditawarkan melalui proses bookbuilding (penawaran awal) mencatat kelebihan permintaan (oversubscribe) sebanyak 9 kali.

Kepemilikan saham KS setelah IPO terbagi menjadi 80 persen oleh Pemerintah RI dan sisanya 20 persen akan dimiliki oleh publik. Dalam penawaran ini, perseroan menunjuk PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai para penjamin pelaksana emisi (underwriter).

Harga pelaksanaan IPO ditetapkan sebesar Rp 850 per saham atau total perolehan dana IPO sebesar Rp 2,681 triliun. "Ini bukan rahasia lagi kalau perusahaan BUMN (biasanya) jadi sapi perah. Saat akan pemilu, saham dari perusahaan (seperti KS) akan mendapatkan gain (keuntungan) untuk biaya pemilu," kata Arief.

Modus yang digunakan, lanjut Arief, saham perdana KS dijual murah Rp 850 per lembar dan ketika harganya kelak melambung tinggi akan menjadi sapi perah.

"Jangan-jangan ini ada semacam penggorengan saham. Dibeli murah dan nanti harganya naik tinggi, apalagi sekarang harga saham lagi terus membaik. Lihat saja dalam sebulan nanti, saham KS ini bisa di atas Rp 1.000 per lembar. Nah, yang 20 persen itu dijual kemana? Itu yang harus transparan," kata Arief.

"Tidak masuk akal jika saham perdana KS dijual Rp 850 per lembar, apalagi kita lihat performance KS sangat bagus akhir-akhir ini sebagai perusahaan yang produksi baja teratas di Indonesia," Arief menambahkan.

Dikutip dari situs Krakatau Steel, kinerja perseroan terus membaik. Pada semester I-2010, penjualan baja KS mencapai 1,153 juta ton, naik 30,28 persen dibandingkan posisi sama tahun lalu, 885 ribu ton.

KS yang memiliki pengalaman memproduksi baja selama 40 tahun sejak berdiri tahun 1970, kini memproduksi beragam produk baja. Produk utama KS adalah baja lembaran terdiri dari Hot Rolled Coil (HRC) dan Cold Rolled Coil (CRC). Produk lainnya adalah Wire Rod.

Produksi HRC KS tercatat sebanyak 2,3 juta ton dari 8,3 juta ton produksi HRC nasional di 2009. Untuk produk CRC, KS memproduksi 850 ribu ton dari total permintaan nasional sebanyak 1,4 juta ton.

Sedangkan untuk produk Wire Rod, KS menyumbangkan 700 ribu ton dari permintaan dalam negeri sebanyak 800 ribu ton. Pada tahun 2011, KS menargetkan dapat menguasai pangsa pasar (market share) baja nasional sebesar 65 persen. Untuk itu, KS berencana menambah kapasitas pabriknya sebesar 500 ribu ton menjadi 2,5 juta ton. Saat ini kapasitas perseroan sebesar 2 juta ton.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved