Amerika Boikot CPO Indonesia
Hatta Rajasa Berang AS Tolak CPO Indonesia
Menko Perekonomian Hatta Rajasa berang atas sikap Amerika Serikat menutup pasar Crude Palm Oil (CPO) atau produk minyak sawit mentah
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menko Perekonomian Hatta Rajasa berang atas sikap Amerika Serikat menutup pasar Crude Palm Oil (CPO) atau produk minyak sawit mentah dan turunannya dari Indonesia.
Karenanya, tegas Hatta, pemerintah dan pengusaha di sektor kelapa sawit harus memberikan penjelasan dan membantah tudingan biofuel atau biodiesel dari CPO tidak ramah lingkungan.
"Saya kira harus kita jelaskan, harus di-counter dan harus diberikan penjelasan darimana dasarnya kalau biodiesel yang bersumber dari CPO itu tidak ramah lingkungan. Dasarnya apa? Wong jelas-jelas seluruh biodiesel itu tidak mengandung emisi karbon," tegas Hatta, saat dimintai tanggapan mengenai keputusan AS menolak CPO Indonesia per 28 Januari pekan lalu.
Ditegaskan Hatta, tidak ramah lingkungan dimananya?
Hal inilah, menurut dia, harus dijelaskan secara ilmiah dan jelas, agar dalam argumentasi Indonesia menjadi semakin kuat.
"Kita tidak boleh diam terhadap hal-hal seperti itu. Karena ini membahayakan pasar kita. Itu tidak boleh," seru mantan Menteri Perhubungan ini saat ditemui di Kompleks istana, Selasa (31/1/2012).
Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, akhir pekan lalu, mengungkapkan, Indonesia mempunyai waktu sampai 27 Februari 2012 untuk memberikan komentar menanggapi notifikasi negeri Paman Sam tersebut.
Atas putusan AS itu, Indonesia akan mengambil langkah dan bantahan. Pun Kedubes RI di Washington telah mengambil langkah menjalin kerjasama dengan mereka yang berkepentingan dengan sawit seperti Indonesia, Malaysia, negara-negara produsen sawit, bahkan juga negara yang sekarang sudah menjadikan sawit bagian dari biofuel, seperti Finlandia.
"Kita tentu akan melakukan langkah-langkah itu membuktikan bahwa sawit itu memiliki dimensi sustainability yang tidak perlu diragukan lagi," tegas Hatta yakin.