Rabu, 10 Juni 2026

Bank Besar Nikmati Subsidi Rakyat

Upaya Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate hingga ke level terendah sepanjang sejarah

Tayang:
Editor: Prawira

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Upaya Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate hingga ke level terendah sepanjang sejarah, yakni 5,75 persen untuk mendorong penurunan suku bunga pinjaman perbankan diperkirakan tidak akan efektif.

Bank-bank besar bakal memilih ongkang-ongkang menikmati subsidi bunga dari APBN yang bebas resiko dibanding harus menyalurkan kredit ke masyarakat yang banyak resikonya. Apalagi jika harus menurunkan suku bunga kreditnya.

Bank diperkirakan akan memilih ngotot mempertahankan bunga kredit tinggi. Posisi tawar perbankan di atas. Pasalnya, sejumlah bank besar tanpa menyalurkan kreditpun sudah menikmati keuntungan besar dari pendapatan kupon obligasi rekapitalisasi eks Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) atau obligasi rekap yang diberikan pemerintah sekitar 13,175-14,275 persen per tahun.

Bank yang menghimpun dana masyarakat tersebut enggan menjalankan fungsi utama sebagai penyalur kredit untuk menggerakkan sektor riil. Toh dengan subsidi bunga dari APBN dari instrumen yang bebas risiko sudah mendapatkan keuntungan cukup tinggi.

"Dibandingkan dengan BI Rate, kupon obligasi rekap yang diberikan pemerintah sangat tinggi. Makanya bank memilih mempertahankan obligasi ini karena keuntungannya besar daripada menyalurkan kredit dengan bunga menyesuaikan BI Rate," kata ekonom dari Indef, Enny Sri Hartati, akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, obligasi rekap adalah warisan lama ketika BI menyuntikkan dana lewat BLBI untuk menalangi perbankan saat menghadapi krisis pada 1998. Sejumlah bank besar kemudian diselamatkan melalui surat utang itu dengan tenor hingga 20 tahun.

Sejak 2003, bank pemilik obligasi rekap menikmati keuntungan hanya dari penghasilan bunga obligasi negara. Pada tahun itu, APBN harus membayar bunga sekitar 31,55 triliun rupiah terhadap sisa obligasi rekap yang masih dipegang perbankan, sekitar 319,33 triliun rupiah.

Tanpa bunga obligasi negara itu, Bank Mandiri, Bank Central Asia, BNI, BRI, BTN, Bank Lippo, dan Bank Danamon, pada semester I-2003 saja langsung merugi. Dengan demikian, keuntungan yang dibukukan saat itu dinilai semu. Hal itu berarti bank-bank besar itu disubsidi oleh rakyat pembayar pajak lewat APBN.
Hingga tahun lalu, Bank Mandiri yang memiliki obligasi rekap Rp 77 triliun, masih menikmati pendapatan kupon cukup signifikan, begitu juga BRI yang memegang obligasi rekapitalisasi Rp 13,6 triliun dari total obligasi pemerintah yang dimilikinya sebesar Rp 20 triliun.

Masyarakat harus membayar bunga obligasi rekap hingga jatuh tempo pada 2033 yang nilai akumulatifnya bisa mencapai sekitar Rp 450 triliun. Pada 2000, APBN mengalokasikan Rp 38 triliun untuk membayar bunga obligasi rekap. Tahun 2008, dianggarkan lebih besar lagi, tidak kurang dari Rp 60 triliun. (tribunnews/ugi)

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved