Kamis, 11 Juni 2026

Harga BBM Naik

Harga Pertamax Naik, Komisi XI DPR Bilang Masyarakat Pasti Beralih ke Pertalite

Meski belum ada perhitungan resmi terkait dampak perpindahan konsumsi tersebut, DPR akan mengevaluasi pengaruhnya ke depan.

Tayang:
Penulis: Fersianus Waku
Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews.com/Fersianus Waku
HARGA BBM NAIK - Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Mukhamad Misbakhun, saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026). Politisi Golkar ini berbicara soal harga BBM jenis Pertamax yang naik hari ini. 

Ringkasan berita

  • Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green berpotensi mendorong masyarakat beralih ke Pertalite yang harganya tetap Rp10.000 per liter.
  • Menurutnya, konsumen umumnya akan memilih BBM yang lebih murah ketika terjadi kenaikan harga.
  • Meski belum ada perhitungan resmi terkait dampak perpindahan konsumsi tersebut, DPR akan mengevaluasi pengaruhnya ke depan.
  • Sementara itu, Pertamina menyatakan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter dilakukan sesuai formula harga dan regulasi yang berlaku.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Mukhamad Misbakhun, menyatakan masyarakat biasanya akan beralih ke bahan bakar minyak minyak (BBM) yang lebih murah apabila BBM jenis lainnya mengalami kenaikan. 

Hal ini disampaikan merespons PT Pertamina (Persero) yang resmi menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green per hari ini, Rabu (10/6/2026).

"Pasti (beralih ke Pertalite), orang kan begitu harga naik, orang kan mencari harga yang paling rendah," kata Misbakhun di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu.

Terkait potensi lonjakan volume konsumsi Pertalite akibat fenomena migrasi atau perpindahan konsumen tersebut, Misbakhun mengakui pihaknya belum melakukan kalkulasi secara mendalam.

Meski demikian, ia memastikan bahwa dampak dari kebijakan kenaikan harga Pertamax ini akan terus dievaluasi ke depannya.

"Untuk kalkulasinya, itu kan belum kita lakukan eksersisnya. Lebih dalam, sudah dilakukan penghitungan-penghitungan, nanti akan kita lihat impactnya seperti apa," ujarnya. 

Misbakhun menambahkan, penyesuaian harga Pertamax ini sebenarnya adalah langkah yang sempat tertunda.

Pemerintah sudah lebih dulu menaikkan harga BBM non-subsidi jenis lain.

"Pemerintah kan sempat melakukan penundaan. Ketika Pertamax Plus (Green) dan Pertamax Turbo itu kan sudah dinaikkan tapi kan Pertamax-nya belum. Nah, sekarang kan Pertamax mulai dilakukan penyesuaian harga," tutur Misbakhun.

Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi.

Harga Pertamax kini dibanderol sebesar Rp 16.250 per liter, atau mengalami kenaikan drastis sebesar Rp 3.950 dari harga sebelumnya yakni Rp 12.300 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax Green dipatok menjadi Rp 17.000 per liter. Angka ini naik Rp 4.100 dari harga sebelumnya yang berada di level Rp 12.900 per liter.

Di saat harga Pertamax naik, harga BBM penugasan jenis Pertalite (RON 90) saat ini tetap dipertahankan pada angka Rp 10.000 per liter.

Terkait kenaikan tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi ini telah mengikuti regulasi yang berlaku. 

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved