KPPU : Buffer Stock Dibutuhkan
Kenaikan harga kedelai di pasaran membuat anjlok penawaran (supply) tempe dipasaran dan berdampak kepada pengrajin tempe dan tahu.
Laporan Wartawan Tribun Jakarta Arif WIcaksono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan harga kedelai di pasaran membuat anjlok penawaran (supply) tempe dipasaran dan berdampak kepada pengrajin tempe dan tahu.
Oleh karena itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia (KPPU) menilai diperlukan langkah-langkah lanjutan seperti buffer stock bagi stok kedelai di Indonesia.
"Langkah ini dibutuhkan untuk menekan harga kedelai yang setiap tahunnya semakin meningkat. Karena kebutuhan kedelai semakin meningkat atau mencapai 2,2 juta ton (2012) dari 2,16 juta ton (2011) dan sekitar 25-30 persen dari produksi dalam negeri dan sisanya impor," ujar Ahmad Djunaedi, Kepala Biro Humas KPPU, di Gedung KPPU di Jakarta (30/07/2012)
Ia berharap buffer stock mampu menekan kenaikan harga kedelai. Sehingga lembaga buffer stock juga diperlukan untuk penyediaan pasokan kedelai sebagai langkah alternatif.
Namun, ia menyarankan agar pelaksana buffer stock harus mengacu kepada UU. "Kalau bisa BUMN atau lembaga lain yang diatur oleh UU," katanya.
Ia juga mengatakan, peningkatan buffer stock harus diiringi dengan peningkatan produksi kedelai dalam negeri untuk mengurangi tingginya tingkat ketergantungan terhadap kedelai impor.
"Dulu kita punya (Intensifikasi Khusus) INSUS pada tahun 1982 dan perlu dipertimbangkan untuk melakukan ini lagi," katanya.(*)
BACA JUGA: