Kamis, 11 Juni 2026

Kisah Sukses Anak Seorang Satpam

Modal dari Ibu, Berkeliling dengan Vespa Tua

Kalau saya amati, banyak orang yang pura-pura kaya untuk jadi kaya, saya coba meniru itu dan cari inspirasi

Tayang:

TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA- Niat kuat, semangat mengental jadi bekal awal Samsul Anam (35) menjadi pengusaha besar. Ia membangun industri aksesori motor meski tanpa punya keterampilan di bengkel. Anak satpam pabrik membuktikan, home industry mampu bersaing dengan industri pabrikan.

Samsul Anam mulai merintis usaha pengerjaan dan distribusi aksesori motor dan kerajinan dari logam tahun 2001. Ia baru lulus kuliah, dan bondo nekat untuk bisa menjadi pengusaha besar.

“Kalau saya amati, banyak orang yang pura-pura kaya untuk jadi kaya, saya coba meniru itu dan cari inspirasi, sehingga muncul niatan menjual aksesori motor,” ujarnya saat ditemui Surya di kantornya.

UD Aji Batara Perkasa Mandiri (ABP) adalah usaha yang dirintis dari nol. Usaha ini sekarang sudah menjadi salah satu produsen aksesori motor terbesar di kawasan Ngingas, Sidoarjo. Produk-produk ABP sudah didistribusikan di hampir seluruh kota di Indonesia.

Tapi, siapa mengira jika usaha ini diawali dari modal Rp 500.000. Waktu itu, sebagai pemuda yang tumbuh di kawasan industri rumah tangga logam di Ngingas, Samsul Anam mengawali dengan mengambil produk para tetangganya.

“Saya dipinjami modal ibu Rp 500.000, lalu saya bawa barang dari warga sini berkeliling naik motor Vespa tua, saya jadi sales onderdil motor sendiri,” kenang alumnus Universitas Bhayangkara ini.

Sales keliling dijalani di sela waktu kerjanya menjadi seorang guru di Tsanawiyah Darul Ulum, Waru, Sidoarjo.

Bukan hal mudah bagi Samsul Anam menggaet pembeli aksesori motor. Lagi-lagi, bondo nekat. Dengan muka tebal, ia datangi sebuah bengkel motor, tiga hingga empat kali, sampai akhirnya merek luluh dan mendapat kepercayaan.
Setelah sekian waktu berjalan, sarjana ekonomi ini mulai berani membawa barang lebih banyak dan memperluas jangkauan.

“Pada hari Sabtu dan Minggu, saya sewa mobil pikap dan sewa sopir, secara bergantian saya keliling Jatim sampai ke Banyuwangi hingga Cepu. Dari situlah saya mulai banyak pelanggan,” paparnya.

Tahun 2004, Samsul Anam mulai merasakan buah kerja kerasnya. Ia mampu membeli sendiri tiga mobil untuk urusan usahanya. Namun, di saat bersamaan dirinya menghadapi ujian berat. Ia bangkrut karena dibohongi pelanggan dan berutang pada para pengusaha di kawasan Ngingas hingga Rp 500 juta.

Samsul Anam tak berdaya. Simpanan dan mobil yang dimiliki bahkan tak cukup untuk melunasi utang.  “Saya sampai di satu titik di mana harus memutuskan, saya akan terus atau berhenti. Kalau berhenti, pasti saya hancur dan kalau terus masih ada kemungkinan saya bertahan,” kenangnya.

Samsul Anam memilih melanjutkan usahanya. Modalnya, ia hanya berusaha meyakinkan para produsen aksesori rekanannya. Syukur beruntung, memiliki keluarga yang mendukung keputusannya.

Keluarga bahkan menganjurkan dirinya meminjam uang di bank dengan jaminan sertifikat rumah yang bernilai Rp 50 juta.

Tak mau mengulang kesalahan yang sama, Samsul Anam bangkit kembali, merintis pabrik logam sendiri sembari menjual produk milik para rekanan. Dari sebuah mesin punch dan las CO, usaha berjalan dibantu  dua orang karyawan.
Bisnisnya secara perlahan terus berkembang. Kini, ABP bisa memproduksi 125 item aksesori motor dengan kapasitas hingga 3.000 buah per hari.

(Dyan Rekohadi) (bersambung)

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved