Minggu, 14 Juni 2026

Dibuang Marvel, Dikontrak Eksklusif DC Comics

“Biasanya 10 halaman itu diberi waktu 13 hari dan saya bisa mengerjakan semua tepat waktu

Tayang:

Rasa cinta dari para penggemar komik itu pula yang menjadi salah satu pengobar semangat agar terus menekuni komik. Berkat kerjasamanya dengan DC Comics, Ardian juga sempat diminta menjadi bintang tamu acara TV, Hitam Putih di Trans 7.

Namun sebelum berangkat ke Jakarta, Ardian menerima telpon dari Marcelino Levrant, seorang artis yang dikenal penggemar komik. Jauh-jauh hari Marcelino memintanya untuk ketemu, saat di studio Trans 7, sesaat sebelum syuting, untuk minta tanda tangan setumpuk buku komik DC Comics.

Dalam kesempatan tersebut Marcelino juga memberikan sebuah komik pahlawan super karyanya yang bernama Volt, untuk diberi masukan.

“Saya tidak tahu dari mana dia dapat nomor telpon saya, dia minta ketemuan. Ini biasanya artis yang diminta tanda tangan, dia malah minta tanda tangan ke saya,” ujarnya sambil tertawa.

Meski bukan pekerjaan populer, nama Ardian semakin berkibar. Majalah Fortune Indonesia edisi Oktober 2012 menyebutnya sebagai hal ke-13, Great Things About Indonesia.

Di rumahnya, Ardian juga kerap menerima komikus-komikus muda untuk sekedar minta bimbingan dan saran. Tetangga sekitar yang awalnya kurang paham dengan pekerjaannya, kini mereka mengerti apa yang dilakukan Ardian mendapat penghargaan secara luas. Mereka pun tahu, Ardian menerima bayaran dollar Amerika dari pekerjaannya yang hanya menggambar setiap hari.

Ardian pun menjadi sosok terpandang di kampungnya.  Tidak jarang warga sekitar datang kepadanya, untuk menawarkan tanahnya. Atau bahkan datang hanya untuk sekedar meminjam uang.

Sebuah pengakuan tidak langsung, bahwa ekonomi Ardian cukup mapan, meski bekerja dengan menggambar di atas kertas dan pensil gambar.

“Itulah kenapa saya tidak mau mengungkapkan bayaran saya dari DC (Comics). Bukan hanya tetangga yang ngutang, ada agen asuransi dan agen-agen lainnya berdatangan menawarkan produk,” akunya.

Mendapatkan kehidupan layak dan dikenal luas di kalangan komikus, tidak membuat Ardian besar kepala. Hidup di desa yang penuh suasana kekeluargaan, membuatnya tidak melupakan aspek sosial. Setiap hari minggu, Ardian menyempatkan diri untuk mengajari anak-anak menggambar.

Bertempat di sekolah Madrasah Ibtidaiyah setempat, puluhan anak mendapatkan pelajaran menggambar gratis darinya. Jika anak-anak sedang bermain bersama putranya, Fahrial Lutfi Rahardian (5), Ardian menyempatkan diri berkumpul dengan mereka, sekedar menikmati komik-komik koleksinya.  

Sering pula para sastrawan Jawa teman-teman almarhum ayahnya, Tansir AS, minta tolong untuk membuatkan cover buku novel mereka. Ardian selalu membantu mereka dengan gratis, sebab menurutnya cara itu untuk mengenang mendiang ayahnya.

“Itu cara saya mengenang alharhum bapak yang sangat berjasa dalam karir saya. Saya teringat para sastrawan Jawa itu pernah sama-sama berjuang dengan bapak,” kenangnya.

Namun Ardian mengaku masih memiliki keinginan terpendam, yaitu memproduksi komik sendiri. Hal tersebut tidak mungkin dilakukannya selama bekerja di DC Comics, sebab salah satu klausal dalam kontrak melarang Ardian membuat komik dan dipublikasikan.

Ardian sepenuhnya sadar, suatu ketika DC Comics bisa saja mengakhiri kontrak dan tidak lagi menggunakan tenaganya.

Sumber: Surya
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved