Lima Alasan Kondisi Transportasi Laut Indonesia Kurang Bagus
Transportasi sangat berpengaruh terhadap distribusi logistik, baik di darat, laut, dan udara.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Transportasi sangat berpengaruh terhadap distribusi logistik, baik di darat, laut, dan udara. Hal ini dikatakan oleh Yamin Jinca, pengamat transportasi, Selasa (26/3/2013), di Jakarta.
Pasalnya, biaya transportasi turut menyumbangkan harga barang. Bahkan menyumbangkan lebih besar daripada biaya produksi. Sehingga produk dalam negeri tidak bisa berkompetisi dengan produk luar negeri.
"Mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, sampai Papua mempunyai tujuan membalik potensi kemiskinan menuju lepas dari kemiskinan. Kesenjangan barat dan timur lumayan, kemiskinan tertinggi ada di Papua, Papua Barat, dan Maluku. Hal ini dipengaruhi dari infrastruktur," kata Guru Besar Transportasi Fakultas Teknik Universitas Hasanudin tersebut.
Infrastruktur berkorelasi dengan wilayah yang tingkat kemiskinan tinggi. Karena dipengaruhi energi, sumber daya air, transportasi, khususnya transportasi laut.
Menurut Yamin, sistem transportasi laut Indonesia kurang bagus. Hal ini dapat mengakibatkan, pertama mahalnya produk-produk dalam negeri, karena pengiriman barang dari pulau satu ke pulau lainnya memakan waktu cukup lama, begitu pula dengan proses bongkar muatnya.
Kedua masalah kapal. Kebanyakan kapal yang dimiliki perusahaan Indonesia berumur tua. Hal ini dapat membuat cost untuk pemeliharaan tinggi, sehingga total cost untuk meneransfer barang menjadi lebih mahal. Ketiga masalah permodalanan yang terkait investasi. Kapal merupakan barang mahal, tetapi sulit untuk recovery investasi. Pasalnya perusahaan harus membayar kewajiban kapal ke pengelola pelabuhan, komponen biaya di laut dan BBM tinggi. Biaya tinggi ini karena diferensiasi, seperti waktu tunggu kapal terlalu lama yang juga mengarugi total cost, karena mahal.
"Kita itu negara maritim, kita dikelilingi 17.500 pulau, letak geografis kita berada tiga alur laut kepulauan. Beberapa hari lalu, jeruk dari Papolo membawa 16 ton ke Jakarta, biaya transportasi bisa Rp 10 juta lebih, berarti satu kilogram lebih mahal dari jeruk Cina, lama-kelamaan produk kita tidak laku di negara sendiri," ujar Yasmin.
Keempat, pelabuhan. Pelabuhan di Indonesia memunyai permasalahan, akses laut banyak mengalamai pendangkalan kolam dermaga yang mengakibatkan perbatasan ruang gerak, serta kapal yang bertandang. Kelima, akses darat. Indonesia memiliki kontainer menumpuk di pelabuhan. Padahal seharusnya barang di dalam kontainer didistribusikan ke tujuan atau sumber produksi. Tetapi permasalahan pelabuhan ke jalan darat bermasalah.
"Kontainer jauh lebih modern, sedangkan kondisi geometrik jalan belum diadaptasikan dengan kontainer," katanya.