PHRI: Ho Chi Mien City Pesaing Kota Bandung
Perusahaan bisa mendatangkan tenaga kerja dari luar dengan penguasaan bahasa inggris yang lebih baik
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG -- Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, Herman Mucthar, mengatakan pemerintah perlu mengkaji wacana penyedernaan pengurusan visa di antara negara Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).
"Segala sesuatu itu harus menguntungkan Indonesia. Mesti mempertimbangkan wisatawan kita yang keluar atau kita yang mendatangkan wisatawan," ujar Herman ketika dihubungi melalui ponselnya, Rabu (2/10). Wisatawan asing (wisman) yang datang ke Indonesia, ucapnya,mendatangkan uang.
"Bila wisatawan Indonesia yang keluar, duit dari negara kita yang dihamburkan ke luar," kata dia. Herman tak setuju dengan rencana penyedernaan pengurusan visa bila cenderung memudahkan warga Indonesia berwisata keluar negeri tanpa diimbangi jumlah wisatawan asing ke tanah air.
Menurutnya, kemampuan Indonesia demi mempromosikan pariwisata sangat kecil. Dukungan anggaran pemerintah untuk promosi pariwisata, ucapnya, sangat sedikit. Dia membandingkan dengan Negeri Jiran yang promosi wisatanya mulai sejak 30 tahun lalu.
Herman khawatir Indonesia belum siap menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Ia tidak mengkhawatirkan soal tenaga kerja. "Kalau ngga siap, kita hanya menjadi tujuan pasar dari luar tanpa kemampuan untuk memasuki pasar di luar," ujarnya.
Menurut Herman, perusahaan bisa mendatangkan tenaga kerja dari luar dengan penguasaan bahasa inggris yang lebih baik. Sejauh ini, Indonesia bersaingan dengan Vietnam.
"Bandung sebagai kota wisata belanja punya pesaing, Kota Saigon (sekarang Ho Chi Mien City/Vietnam). Kota itu bagus dan besar, nyaman, tertib, dan tak macet. Wisatawan mengarah ke Saigon," ujar dia. Karena itu, ucapnya, perlu ada pembenahan semua destinasi belanja di Bandung.
Satu di antaranya adalah Pasar Baru perlu dibenahi agar nyaman dan aman bagi wisatawan asing. Selain itu, wisatawan mancanegara (wiswan) perlu diarahkan agar berbelanja di outlet-outlet. Ia menyatakan Jabar juga perlu menentukan sasaran untuk mendatangkan banyak wisman.
Beberapa negara yang potensial adalah Malaysia, Vietnam, Singapura, Australia, Belanda, dan Cina. Menurutnya, sekitar 8 juta warga Cina keluar negeri per tahun tapi amat sedikit yang berkunjung ke Jabar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, jumlah turis asing yang datang ke Jabar melalui pintu masuk Bandara Husein Sastranegara Bandung dan Pelabuhan Muarajati, Kota Cirebon, pada Agustus naik dibandingkan dengan pada Juli 2013.
Pada Agustus 2013 sebanyak 8.808 wisman datang ke Jabar melalui dua pintu masuk itu sedangkan pada bulan sebelumnya, ada 7.803 wisman. Jumlah kunjungan wisman ke Jabar pada Agustus didominasi warga Malaysia dan Singapura, yakni 5.814 dan 1.640 orang. (tom)