Pembunyian Bel dari Dirut Penanda Telkom Bikin Sejarah di Bursa Saham New York
Dirut PT Telkom, Arief Yahya dilaporkan jadi orang yang membunyikan bel penanda penutupan perdagangan di lantai Bursa Saham New York
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Arief Yahya dilaporkan jadi orang yang membunyikan bel penanda penutupan perdagangan (closing bell ceremony) di lantai Bursa Saham New York (New York Stock Exchange – NYSE).
Kegiatan seremoni tersebut, sekaligus mewarnai perayaan 157 tahun Telkom serta menyambut 18 tahun pencatatan saham Telkom di Bursa Saham New York (NYSE), yang akan jatuh 14 November mendatang.
“Pencatatan saham Telkom di NYSE merupakan tonggak sejarah, yang menunjukkan keberanian menjadi wakil dunia usaha di pusat keuangan dunia," ujar Arif, Senin (4/11/2013).
Menurut Direktur Utama Telkom Arief Yahya, pencatatan saham di NYSE adalah tonggak sejarah yang menandai 157 tahun perjuangan Telkom membangun industri telekomunikasi Indonesia.
"Pencatatan di NYSE juga pembuktian komitmen untuk memenuhi tuntutan pelaporan serta transparansi perusahaan berstandar internasional,” ungkap Arief.
Ia menambahkan, sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang melakukan dual listing dan tercatat di NYSE, Telkom telah membuktikan diri sebagai portofolio yang konsisten.
Hal ini ditunjukkan dengan kenaikan nilai saham sejak 30 September hingga 30 Oktober 2013, sebesar 9,52 persen, dengan kapitalisasi pasar senilai 20,77 miliar dollar AS.
Saham Telkom sendiri tercatat di NYSE dan London Stock Exchange (LSE) dalam bentuk (ADS) melalui program American Depository Receipt (ADR) dengan kustodian The Bank of NewYork Mellon. Hingga 30 Oktober 2013, volume perdagangan saham Telkom di NYSE memberikan kontribusi sebesar 31.7 persen dari total perdagangan saham Telkom.
Meskipun kontribusi tersebut, lebih rendah jika dibandingkan dengan volume perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), namun tercatatnya saham Telkom di NYSE memberikan kemudahan untuk mendapatkan akses terhadap sumber-sumber pendanaan eksternal di tingkat internasional, serta valuasi premium.
“Tidak mudah untuk mewakili dunia usaha Indonesia di pusat keuangan dunia, serta menunjukkan kinerja portofolio yang konsisten. Ini adalah sebuah sebuah prestasi sekaligus kebanggan bagi Telkom dan Indonesia,” tambah Arief Yahya.