'Panic Buying' Picu Kenaikan Harga
Kenaikan sejumlah harga bahan pokok menjelang Ramadan diduga dipicu oleh panic buying
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kenaikan sejumlah harga bahan pokok menjelang Ramadan diduga dipicu oleh panic buying, yakni masyarakat membeli bahan pokok dalam jumlah besar. Kondisi ini justru akan mendorong pedagang menjadi spekulan.
Karena itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) jabar mengingatkan agar masyarakat tidak perlu kuatir dengan kebutuhan bahan pokok karena ketersediaan bahan pokok di pasar aman untuk Jawa Barat.
"Jadi kenaikan (harga) kemungkinan dipicu panic buying," kata Kepala Disperindag Provinsi Jabar, Ferry Sofwan Arief di Bandung, Selasa (10/6).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak perlu terjadi apalagi karena khawatir menipisnya ketersediaan bahan pokok. Karena di Jawa Barat terdapat 680 pasar tradisional dan 2.900 ritel modern yang buka setiap saat untuk melayani dan menyediakan kebutuhan masyarakat.
Ferry mencontohkan, kenaikan harga di pasar justru menjadi persoalan bagi petani di sentra-sentra produksi. Seperti dari pantauan Disperindag di Cianjur dan Sukabumi, para petani mengaku harga jual ke pedagang turun."Harga cabai keriting yang dijual ke pedagang malah turun. Ini karena suplai sedang melimpah baik dari dalam provinsi maupun luar Jabar," katanya.
Menyikapi hal tersebut, Disperindag Jabar mendorong kabupaten/kota menggelar operasi pasar (OP) khusus komoditas pertanian yang harganya fluktuatif. Hanya saja, sebelum OP dilakukan lebih dulu melihat keinginan harga dari petani. Jangan sampai terjadi kontra produktif agar tidak merugikan petani. "Semisal, OP di daerah yang tidak menghasilkan bawang merah," katanya.
Tahun ini Pemprov Jabar mengalokasikan anggaran Rp10 miliar untuk OP kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, gula putih, minyak goreng, telur, dan daging sapi.
Kenaikan harga sembako kemarin terlihat di Kabupaten Bandung dan Cirebon. Di Pasar Kopo Sayati harga komoditas sayuran mulai dari bawang merah, bawang putih, buncis dan wortel juga mulai melonjak. Walau kenaikan tidak terlalu signifikan. Sementara itu harga daging ayam berada di kisaran Rp 32 ribu per kg dari harga sebelumnya Rp 24 ribu per kilogram.
Di Kabupaten Cirebon, sejumlah jenis sembako juga naik harga, namun pasokan relatif lancar.
"Ada kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti daging ayam, sayuran, dan telur. Rata-rata Rp 1.000-Rp 3.000 per kilogram dalam sepekan," kata Kepala Disperindag Kabupaten Cirebon, Haki, di sela-sela Festival Makanan Olahan 2014 di Asrama Haji Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, kemarin.
Haki menyebutkan, telur dan daging ayam merupakan dua komoditi yang terus naik. Saat ini harga daging ayam pun sudah di atas Rp 30.000 per kilogram, padahal biasanya Rp 24.000-Rp 25.000 per kg. (tif/roh/wij)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140417_204735_harga-makanan-pengaruhi-deflasi.jpg)