Breaking News:

Pasokan BBM dan Listrik Dijamin Aman untuk Natal dan Tahun Baru

Ahmad Bambang menyebutkan, pihaknya akan menambah pasokan BBM semua jenis dari hari biasanya disesuaikan dengan daerahnya.

Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Petugas tengah mengisi bahan bakar minyak (bbm) di SPBU Cikini, Jakarta Pusat 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perayaan Hari Raya Natal dan pergantian tahun hanya tinggal menunggu waktu. Umumnya, masyarakat akan menggunakan momentum tersebut untuk bepergian ke berbagai tempat.

Diperkirakan kecenderungan masyarakat mengkonsumsi bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraannya pun akan lebih banyak ketimbang hari biasanya dan konsumsi listrik di beberapa titik di daerah pun akan mengalami peningkatan.

Namun demikian, masyarakat tidak perlu khawatir. Karena PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan pelat merah penyalur BBM telah siap dengan kondisi tersebut.

Begitu pun dengan PT PLN (Persero) yang telah menjamin kestabilan kelistrikan di beberapa titik khususnya di tempat-tempat wisata.

"Kesiapan kelistrikan dan pasokan BBM Natal dan tahun baru tidak ada masalah, Pertamina siap, AKR Corporindo (peritel SPBU) yang menerima penugasan juga siap, PLN juga siap," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Jakarta, Selasa (20/12/2016).

Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang menyebutkan, pihaknya akan menambah pasokan BBM semua jenis dari hari biasanya disesuaikan dengan daerahnya.

Menurut pria yang akrab disapa Abe ini, penambahan pasokan BBM tersebut akan dikonsentrasikan ke titik-titik yang banyak terdapat tempat wisata.

"Konsentrasinya di pusat-pusat wisata, tergantung lokasinya, misal untuk Bali kita siapkan naik 24 persen, Surabaya Semarang Bandung itu pasti akan naik," terang Abe.

Namun demikian, menurut Abe, selama momentum Natal dan tahun baru diperkirakan konsumsi solar akan menurun. Karena beberapa perusahaan-perusahaan akan meliburkan distribusi barangnya.

"Solar pasti turun karena industri yang ada angkutan beratnya enggak beroperasi. Yang naik akan tinggi itu Pertamax dan Pertalite. Lagi-lagi tergantung daerahnya," pungkas Abe.(Iwan Supriyatna)

Editor: Sanusi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved