Breaking News:

KTT IORA

Jadikan IORA Momentum Genjot Ekspor RI

Kerjasama negara-negara anggota Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia diyakini menjadi momentum Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspor.

ISTIMEWA
Presiden Joko Widodo saat membuka Business Summit KTT IORA ke-20, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (6/3/2017) (IORA Summit 2017/Rosa Panggabean/Spt/17) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kerjasama negara-negara anggota Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia atau Indian Ocean Rim Association (IORA) diyakini menjadi momentum Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspor.

Pasalnya, pasar baru tujuan ekspor makin terbuka luas lewat sejumlah kesepakatan bisnis yang terjadi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) IORA di Jakarta saat ini. Penegasan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam rangkaian KTT ini, untuk melakukan ekspansi pasar, mendapatkan apresiasi dan dukungan berbagai kalangan.

“Negara-negara yang tergabung dalam IORA ini merupakan negara yang sifatnya non tradisional tapi potensial,” kata Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi di Jakarta, Selasa (7/3).

Mengenai perdagangan dan investasi, selama ini partner dagang traditional Indonesia adalah Cina, Jepang, dan USA. Menurutnya, strategi yang harus diambil Indonesia ke depan adalah memperlebar portofolio ke negara-negara non tradisional.

Jika hanya mengandalkan perdagangan dengan negara-negara tradisional ekspor, berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berkelanjutan. Dengan kata lain, akan sangat tergantung pada kondisi negara-negara tersebut. Sehingga jika ada krisis atau penurunan permintaan, akan berdampak negatif untuk Indonesia.

“Kalau kita bicara IORA juga coverage-nya sangat luas melibatkan beberapa daerah ekonomi seperti Asean, SAARC untuk negara-negara Asia Selatan, lalu ada Australia dan Afrika. Ini melibatkan banyak negara, cross region dan besar sekali potensi kerja samanya,” tuturnya.

Beberapa komoditas andalan Indonesia yang bisa didorong adalah komoditas-komoditas unggulan seperti kopi, produk-produk pertanian dan tekstil. “Ke depan kita bisa melihat ke produksi yang jauh lebih advance seperti spare part dan komponen elektronik. Untuk jangka pendek, kita bisa lihat di 10 komoditas unggulan kita,” lanjutnya.

Fithra menyarankan, peningkatan kerja sama bisa dimulai dari negara dengan ukuran GDP yang cukup besar dan jarak yang tidak terlalu jauh seperti Australia dan India. “Namun tidak menutup kemungkinan untuk mulai menggarap pasar Afrika. Negara Afrika Selatan bisa menjadi pintu masuk ekspor Indonesia ke benua Afrika,” serunya.

Pada 2016 potensi pasar Afrika mencapai 550 miliar dolar AS, tetapi realisasi ekspor Indonesia ke sana baru mencapai 4,2 miliar dolar AS. Sedangkan potensi Timur Tengah mencapai 975 miliar dolar AS dengan realisasi ekspor baru mencapai 5 miliar dolar AS.

Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Nasril Bahar mendukung niatan ekspansi pasar oleh Kemendag. Ia menilai, Indonesia di kawasan Lingkar Samudra Hindia memiliki daya saing dan daya tawar yang cukup baik.

Halaman
123
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved