Mencari Resep Mujarab untuk Jakarta yang 'Sakit Keras'
Ibarat seseorang sedang "sakit keras", inilah gambaran untuk sosok Jakarta, kota berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa
Keterlibatan swasta
Kini, sudah terbukti di berbagai belahan dunia, bahwa kualitas dan kuantitas infrastuktur menentukan tinggi rendahnya investasi, yang kelak sangat diperlukan untuk menekan angka pengangguran dan kejahatan, serta meluasnya kawasan kumuh.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran di Jakarta tahun lalu mencapai 6,12 persen, sementara rata-rata nasional adalah 5,61 persen. Maka, jika arus perantau ke Jakarta dibelokkan ke tetangganya, tak mustahil bisa persentasepengangguran di Jakarta merosot di bawah rata rata nasional.
Jelas betul, bahwa peran swasta tak bisa disepelekan. Sebabnya, tak mungkin APBN dan APBD sanggup memenuhi semua kebutuhan pembangunan yang bersifat antarwilayah.
Pun, lembaga keuangan dunia sekelas Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) juga ikut mendorong keterlibatan swasta dalam penyusunan dan pelaksanaan program pembangunan antarwilayah dalam format jangka panjang. Mereka percaya, itulah resep paling mujarab untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang sehat.
Manfaat dari semua hal di atas bagi Jakarta sebagai ibukota negara adalah bisa membebaskan diri dari banjir yang menerjang setiap musim hujan, kebakaran kampung yang berkobar berkali kali setiap tahun, kawasan kumuh yang meluas, dan kemacetan yang sudah lama menjadikan Jakarta bak ladang “penyiksaan” di jalan raya.
Berita Ini Sudah Dipublikasikan di Kompas.com, dengan judul: Mencari Obat Mujarab untuk Jakarta yang “Sakit”…
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kemacetan-jakarta_20170824_173544.jpg)