Minggu, 31 Mei 2026

Neraca Perdagangan RI Bulan Mei Defisit, Dipicu Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah

Dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit sebesar US$ 1,63 miliar, jumlah itu lebih kecil.

Tayang:
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews/JEPRIMA
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Indonesia, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (7/3/2018). 

Sedangkan impor barang konsumsi hanya US$ 1,73 miliar tumbuh 14,88% dibandingkan April 2018. "Impor diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi," tandas Suhariyanto.

Kurangi konsumsi

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta W Kamdani juga melihat lonjakan impor baik bagi industri.

Baca: Jalan Tol Kertosono-Kediri Akan Digarap Anak Usaha Jasa Marga

Pengusaha memang banyak belanja bahan baku dan barang modal demi menggenjot produksi.

Menurutnya, ini bukan hanya antisipasi peningkatan konsumsi saat Idulfitri.

"Pengusaha bersiap-siap bila pasar perdagangan global menjadi tidak menentu karena perang dagang AS-China," katanya.

Menteri Koordinator Ekonomi Darmin Nasution bilang, pemerintah bakal menekan impor agar neraca dagang tidak lagi defisit. Sebab, dalam kondisi ini Indonesia rentan pengaruh huru-hara perdagangan global.

"Impor barang konsumsi harus dirasionalkan. Ekspor juga akan dioptimalkan," ujarnya. Sayang Darmin tak bisa menjelaskan detil cara menurunkan impor dan menggenjot ekspor.

 
 

Sumber: Kontan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved