Neraca Perdagangan RI Bulan Mei Defisit, Dipicu Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah
Dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit sebesar US$ 1,63 miliar, jumlah itu lebih kecil.
Sedangkan impor barang konsumsi hanya US$ 1,73 miliar tumbuh 14,88% dibandingkan April 2018. "Impor diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi," tandas Suhariyanto.
Kurangi konsumsi
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta W Kamdani juga melihat lonjakan impor baik bagi industri.
Baca: Jalan Tol Kertosono-Kediri Akan Digarap Anak Usaha Jasa Marga
Pengusaha memang banyak belanja bahan baku dan barang modal demi menggenjot produksi.
Menurutnya, ini bukan hanya antisipasi peningkatan konsumsi saat Idulfitri.
"Pengusaha bersiap-siap bila pasar perdagangan global menjadi tidak menentu karena perang dagang AS-China," katanya.
Menteri Koordinator Ekonomi Darmin Nasution bilang, pemerintah bakal menekan impor agar neraca dagang tidak lagi defisit. Sebab, dalam kondisi ini Indonesia rentan pengaruh huru-hara perdagangan global.
"Impor barang konsumsi harus dirasionalkan. Ekspor juga akan dioptimalkan," ujarnya. Sayang Darmin tak bisa menjelaskan detil cara menurunkan impor dan menggenjot ekspor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/aktivitas-peti-kemas_20180307_164252.jpg)