OJK Disarankan Investigasi Garuda Ungkap Dugaan Cornering di Pasar Modal

“Biasanya selalu saja investor publik yang dirugikan, mereka menelan mentah-mentah informasi yang masuk."

OJK Disarankan Investigasi Garuda Ungkap Dugaan Cornering di Pasar Modal
TRIBUN PEKANBARU/Theo Rizky
Staf di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Riau di Pekanbaru tengah menganalisa pergerakan harga saham, Rabu (5/9/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disarankan melakukan investigasi atas kinerja emiten saham Garuda Indonesia untuk mengetahui dugaan kemungkinan pihak-pihak tertentu memanfaatkan fluktuasis saham Garuda di pasar modal untuk mencari keuntungan.

Analis senior Anugerah Sekuritas, Bertoni Rio, dalam keterangan persnya mengungkapkan Garuda Indonesia Tbk selama ini menjadi emiten BUMN yang dipresepsikan sedang bermasalah, terlebih dengan munculnya pemberitaan negatif yang cukup masif belakangan ini.

Dia menilai, hal demikian menutup seluruh pencapaian positif Garuda selama ini dan diikuti oleh aksi jual investor ritel namun diikuti kenaikan signifikan porsi pemegang saham tertentu dan di kuti kenaikan
signifikan porsi pemegang saham tertentu.

Hal demikian memunculkan dugaan adanya upaya cornering dari pihak tertentu untuk mengumpulkan saham Garuda saat harganya sedang jatuh untuk tujuan atau kepentingan hostile take over saham Garuda.

“Logikanya kan saham perusahaan yang bermasalah akan ditinggalkan oleh pemegang saham, seperti
yang dilakukan investor ritel GIAA, tapi ternyata diserap oleh pemegang saham lainnya,” ungkap Bertoni Rio.

Baca: Bisnis Fintech Banyak Dikeluhkan, LBH Jakarta Terima 4.500 Aduan Sampai Juni 2019

Dia mengatakan, OJK sebagai otoritas di pasar modal punya kemampuan dan kewenangan untuk melihat pihak-pihak yang melakukan praktek penggunaan pemberitaan dalam mempengaruhi harga atau pergerakan saham emiten dengan tujuan penguasaan ataupun sebaliknya.

Baca: Warga Sampang Dihebohkan Kabar Orang Mati Hidup Lagi, Begini Pengakuan Pelaku

“Biasanya selalu saja investor publik yang dirugikan, mereka menelan mentah-mentah informasi
yang masuk, yang dikuti dengan keputusan jual/beli akibat adanya inisiator (semu), dan terjadi secara masif membuat sentimennya semakin kuat sehingga menjadi overeaction,” kata Bertoni.

Selain langkah edukasi dari sisi investor ritel yang sudh dijalankan, pihak otoritas perlu memberikan shock therapy agar 'praktik nakal' untuk tujuan penguasaan atau sebaliknya terhadap BUMN tidak terjadi.

"Kisruh emiten AISA atau KIJA yang dikategorikan hostile take over jangan sampai menular apalagi terjadi pada emiten-emiten BUMN kita," ujarnya.

"Kalau perlu OJK bisa lakukan investigasi terhadap GIAA untuk melihat apakah ada upaya cornering atau hostile take over karena banyak kepemilikan pemegang saham secara the facto punya porsi yang lebih besar dari yang apa tercatat di publik, artinya ada motif disembunyikan, hal seperti ini kan kurang pas ada di BUMN dan perlu diantisipasi,” ungkap Bertoni.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved