Menteri Budi Karya: Negara Jangan Sampai Gagal Paham, Kita Butuh Penyegaran

Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, di era ini semua pihak harus mulai memikirkan pemikiran yang out of the box.

Menteri Budi Karya: Negara Jangan Sampai Gagal Paham, Kita Butuh Penyegaran
TRIBUNNEWS/RIA ANASTASIA
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - ‎Menghadapi era baru, mobilisasi dan orkestrasi atau MO yang belakangan marak dilakukan dengan teknologi digital.

Dimana era ini membuat banyak teori bisnis menjadi usang dan berbagai model bisnis tidak lagi relevan‎ hingga banyak orang yang kebingungan serta gagal paham.

Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, di era ini semua pihak harus mulai memikirkan pemikiran yang out of the box.

"Ini sebuah dunia baru, harus ada pemikiran yang out of the box. Dunia sekarang ini luar biasa berkembang cepat. Bayangkan di 2008 kita tahu perusahaan amazon, facebook, petro China sangat mendominasi. Tapi sekarang mereka tergeser dan tidak terdengar lagi," ujar Budi Karya.

Baca: Kata Maruarar, Koperasi Tingkatkan Ekonomi Kader PDI Perjuangan Subang

Baca: LIVE STREAMING SCTV Timnas U18 Indonesia vs Myanmar Piala AFF U18 2019, Prediksi dan Head to Head

Baca: Chimera manusia-hewan, mengapa Jepang jadi negara pertama yang mengizinkan ilmuwan mengembangkannya?

Baca: PN Jakpus Gelar Sidang Kerusuhan 22 Mei 2019

Agar tetap eksis, menurut Budi Karya dibutuhkan keberanian untuk ‎menjalankan strategi berbeda dan tidak populer meski dinilai gagal paham.

"Adaptasi ‎ini butuh mobilisasi. Butuh adaptasi cepat. Indonesia sudah melakukan cara baru, adaptasi berbeda. Mainset jawa sentris ditinggalkan, darat tidak jadi yang utama. Sekarang laut dimajukan yang dampaknya dirasakan," ungkap Budi Karya.

"Untuk menjalankan kebijakan yang tidak populer agak pahit di awal tapi hasilnya luar biasa untuk masa depan. Kita butuh penyegaran, tidak terjebak di rutinitas selama ini. Buku #MO dari Prof Rhenal Kasali ini menyegarkan kita semua. Buku ini bermanfaat bagi peneliti, pemerintah dan masyarakat luas untuk membuka wawasan," tambahnya.

‎Untuk diketahui, Akademisi sekaligus praktisi bisnis Rhenald Kasali, meluncurkan karya terbarunya berjudul #MO, sebuah dunia baru yang membuat banyak orang gagal paham, Selasa (13/8/2019) di Rumah Perubahan, Jatiwarna, Kota Bekasi.

"Selamat datang di era #MO, mobilisasi dan orkestrasi. Inilah era MO, yang membuat banyak teori bisnis jadi usang dan berbagai model bisnis tak lagi relevan," ucap Rhenald Kasali.

"Banyak orang yang kebingungan dan yang pasti era yang membuat banyak orang gagal paham. Termasuk kalangan akademisi yang masih berkutat dengan teori dan asumsi lama. Tidak usah malu gagal paham, ini zamannya gagal paham," kata Rhenald Kasali.

Melalui bukunya, Rhenald Kasali juga memaparkan hasil riset terbaru yang memetakan dengan jelas gejala mobilisasi dan orkestrasi yang belakangan marak dilakukan dengan teknologi digital.

Bahkan industri akan dan tengah dihantui oleh gejala kehilangan the main yang menjadi sumber pendapatannya.

Surat kabar adalah korban pertama ketika mereka kehilangan pendapatan dari penjualan koran dan iklan, disusul televisi. Lalu airline tidak dappat hidup dari tiket. Demikian juga industri telekomunikasi tidak dapat hidup dengan hanya mengandalkan pendapatan voice.

"Meskippun gejala mobilisasi dan orkestrasi kian jelas. Masih saja ada yang gagal paham karena ketidaktahuan dan terperangkap oleh paradigma lama. Karenanya kita butuh lensa baru untuk meneropong apa yang sebenarnya terjadi agar tidak terjadi gagal paham," tambah Rhenald Kasali.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved