Gejolak Rupiah

Ini Prediksi Analis soal Pergerakan Rupiah Pekan Depan

fluktuasi mata uang Indonesia pekan ini dinilai lebih disebabkan oleh ulah investor yang melakukan trading.

Ini Prediksi Analis soal Pergerakan Rupiah Pekan Depan
Tribunnews/JEPRIMA
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perkembangan negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta keputusan final Brexit menjadi fokus utama penggerak kurs rupiah selama sepekan.

Namun, fluktuasi mata uang Indonesia pekan ini dinilai lebih disebabkan oleh ulah investor yang melakukan trading.

Pada perdagangan Jumat (18/10), rupiah ditutup menguat 0,05% ke Rp 14.148 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya ada di level Rp 14.155 per dolar AS.

Baca: Kembangkan Dua Bandara di Jateng, Kemenhub Buka Sayembara Desain

Baca: Pramugari dan Pilot Tidur di Ruang Tersembunyi Dalam Pesawat

Baca: Strategi BPJS Kesehatan agar Peserta Tak Lagi Tunggak Iuran

Selama sepekan, rupiah melemah 0,07% dari posisi akhir pekan lalu yang menyentuh harga Rp 14.138 per dolar AS.

Sementara kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatatkan rupiah pada hari ini menguat 0,22% ke posisi Rp 14.140 per dolar AS.

Sedangkan selama sepekan, rupiah di kurs tengah BI juga melemah 0,01% dari Rp 14.139 per dolar AS.

Ekonom Bank BCA David Sumual menyampaikan, sebetulnya pekan ini banyak perkembangan positif jika dibandingkan pekan lalu.

Seorang karyawan saat menghitung mata uang dalam bentuk pecahan Rp 50.000 dan pecahan Rp 100.000 di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (24/4/2018). Nilai tukar rupiah dipasar spot ditutup menguat 86 poin atau 0,62% ke level Rp 13.889 per dolar AS. Tribunnews/Jeprima
Seorang karyawan saat menghitung mata uang dalam bentuk pecahan Rp 50.000 dan pecahan Rp 100.000 di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Pertama, perundingan fase pertama antara AS-China memberikan hasil yang cukup baik, meski keduanya masih terus mempelajari kesepakatan yang hendak ditentukan.

Khususnya China yang menyatakan akan mengevaluasi dan mempelajari klausul kesepakatan keduanya, tepatnya tentang produk pertanian AS.

Kedua, ada Brexit yang menunjukkan hasil soft Brexit. Sebelumnya, sulitnya titik temu pada kasus Brexit karena salah satu masalah utamanya adalah perbatasan Britania Raya dengan Irlandia.

Halaman
12
Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved