Saran Rizal Ramli untuk Pemerintah: Lebih Baik Fokus Persoalan Ekonomi

"Terlampau sering membicarakan radikalisme, baik pemerintah maupun publik, hanya akan membuat kita kehilangan optimisme membangun ekonomi,"

Saran Rizal Ramli untuk Pemerintah: Lebih Baik Fokus Persoalan Ekonomi
TRIBUN/DANY PERMANA
Ekonom Rizal Ramli 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Ekonom senior Rizal Ramli mengingatkan pemerintah untuk fokus pada persoalan ekonomi, menghindari berbicara isu-isu radikalisme. Menurutnya, hal ini bisa membuat para investor merasa ragu dengan nasib investasi di Indonesia.

"Terlampau sering membicarakan radikalisme, baik pemerintah maupun publik, hanya akan membuat kita kehilangan optimisme membangun ekonomi," ujar Rizal Ramli, Kamis (7/11/2019).

Baca: Pemerintah Harus Cari Solusi Atasi Pengangguran Terdidik

Persoalan radikalisme, lanjutnya memang hal yang penting untuk diperhatikan. Namun, hal itu cukup dilakukan dengan langkah tepat. Namun, juga mengabaikan permasalahan ekonomi yang saat ini kurang menguntungkan dan meleset dari target.

Baca: Sebut Nadiem Makarim Pilihan Baik, Rizal Ramli: Tapi Kalau Larang Rocky Gerung Saya Tak Simpati Lagi

"Pemerintah misalnya, harus menyusun langkah yang berani dan tepat untuk mengatasi defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang kian melebar. Dan solusinya tidak selalu dengan berutang," kata Rizal.

Solusi dengan berutang menurutnya, membebani APBN berikutnya, dan generasi yang akan datang. "Cobalah serius menguber wajib pajak besar dan perusahaan asing, agar penerimaan pajak ini meningkat dan mencapat target," saran Rizal.

Selain soal defisit, hal yang harusnya jadi perhatian pemerintah dan publik adalah pertumbuhan ekonomi yang meleset dari target. Sejumlah lembaga sudah memprediksi melesetnya pertumbuhan ekonomi itu dan sudah pula dipublikasikan media massa.

Baca: Ketua DPR Harap Penguatan Hubungan Ekonomi Indonesia-Maroko

Diungkap, Bank Indonesia (BI) beberapa hari lalu memperkirakan ekonomi tahun 2019, hanya tumbuh 5,05%. Perkiraan itu dibawah yang ditargetkan APBN 2019 yang dipatok pada 5,1 persen.  

Pada September lalu Bank Dunia, memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 bisa dibawah 5%. Sejumlah ekonom juga memperkirakan ekonomi Indonesia akan melambat.

Baca: Mencuat Isu Dana Desa Fiktif, Pengamat Sebut Pemerintah Lemah dalam Melakukan Verifikasi

Jauh sebelum sejumlah lembaga itu mempublikasikan proyeksi mereka, Rizal Ramli sudah mengingatkan pertumbuhan ekonomi yang menurun. Seharusnya, kata Rizal, dalam keadaan yang melambat, pemerintah mendorong roda ekonomi dengan memberi stimulus agar bisa bergerak, sesudah itu tinggal mengejar pajak.

Solusi atasi krisis dengan berhemat itu, lanjut Rizal, memang menekan pengeluaran, tapi ini cara yang sudah konvensional dan berulang-ulang. "Jika cara yang sama dipakai untuk memecahkan masalah, jangan berharap hasil akan yang berbeda. Karena kita sudah tahu hasilnya," kata Rizal.

Ia mengakui, salah satu sebab kesulitan saat ini adalah perang dagang antara Amerika Serikat melawan China. Tapi perang dagang ini adalah sesuatu yang sudah dibicarakan dunia.

Baca: 5 Dokumen Penting Syarat Mudah Daftar CPNS 2019, Termasuk Foto Selfie

"Artinya, kita punya waktu yang cukup untuk menyusun serta mengambil langkah serta tindakan. Masalahnya kita minim plan, time frame, atau action untuk menarik manfaat maksimal dari perang dagang itu," kata Rizal.

Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved