Breaking News:

Blak-blakan, Erick Thohir Ungkap Alasan Tetap Pertahankan Garuda Indonesia

Erick menyebut alasannya untuk menghindari terjadinya monopoli usaha, karena hanya akan tersisa Lion Air Group.

TRIBUNNEWS/REYNAS ABDILA
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir blak-blakan menjelaskan mengapa PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tetap dipertahankan meski kinerja keuangan peseroan terseok-seok akibat pandemi Covid-19.

Erick menyebut alasannya untuk menghindari terjadinya monopoli usaha, karena hanya akan tersisa Lion Air Group.

"Garuda ini unik, kalau kita tutup sekarang terjadi monopoli, saya bukan anti Lion Air ya. Karena tinggal satu-satunya tentu terjadi monopol," katanya dalam webinar Kamis (2/7/2020) malam.

Mantan Ketua INASGOC itu menyatakan dirinya sebelum menjadi pembantu Presiden Joko Widodo sudah dikejutkan kabar harga tiket pesawat mahal karena oligopoli.

"Hal-hal seperti ini juga menjadi daya tarik BUMN sendiri, ketika ada persaingan yang tidak sehat disitulah BUMN mesti masuk dan terkadang juga harus rugi," jelas Erick.

Baca: Erick Thohir: Saya Angkat Direksi Muda Bukan untuk Gaya-gayaan

Kondisi serupa juga dirasakan BUMN layanan publik bidang transportasi lainnya seperti PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan operator bandara PT Angkasa Pura (Persero).

Baca: Pengamat Nilai Basuki Hadimuljono, Erick Thohir, dan Prabowo Akan Dipertahankan Jika Ada Reshuffle

Kinerja buruk sektor transportasi, kata Erick, lantaran pergerakan penumpang dibatasi jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Kereta Api revenuenya drop 90 persen. Profit tahun kemarin Rp2,5 T tahun ini profit dipakai untuk gaji. Jadi ya itu tugas negara dan komitmen beda dengan swasta. Ini yang tetap kita jaga sangat enggak mungkin kereta api atau airport ditutup," jelas Erick.

Baca: Dirut Garuda Buka Suara Terkait Penumpang WNA yang Meninggal dalam Penerbangan

Erick mengemukakan Kementerian BUMN mencatat setidaknya 90 persen perusahaan plat merah terdampak Covid-19, hanya 10 persen BUMN yang masih dapat berjalan normal.

Sektor yang justru mendulang revenue di tengah pandemi yakni sektor teknologi informasi (Telkom, Telkomsel), farmasi (Biofarma, Indofarma, Kimia Farma), serta perkebunan (PTPN).

Adapun dividen BUMN tahun 2021 hanya akan mencapai 25 persen dari kontribusi yang biasa BUMN berikan untuk pendapatan negara.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved