Breaking News:

Ekonomi Tumbuh Positif atau Negatif? Begini Hitung-hitungan Anak Buah Sri Mulyani

Bank Dunia memperkirakan Covid-19 akan membuat membuat perekonomian banyak negara mengalami konstraksi.

Dok.Universitas Indonesia/IST
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Nathan Kacaribu. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Keuangan membuat hitung-hitungan tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, apakah akan masih bisa tumbuh positif atau malah negatif di 2020 ini akibat pandemi Covid-19.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, Bank Dunia memperkirakan Covid-19 akan membuat membuat perekonomian banyak negara mengalami konstraksi.

"Bank Dunia mengestimasi bahwa lebih dari 90 persen negara-negara di dunia akan mengalami kontraksi. Jadinya, kalau Indonesia berhasil untuk tidak kontraksi maka Indonesia masuk di sangat minoritas pada 2020," ujarnya saat webinar, Selasa (28/7/2020).

Baca: Jokowi: Kuartal II Pertumbuhan Ekonomi akan Jatuh Minus, Kita Harus Ngomong Apa Adanya

Namun, Febrio menjelaskan, memang ada kemungkinan Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi, tapi tidak sedalam negara maju.

"Sekarang kita bisa juga negatif, kontraksi, tapi harapannya kontraksi kita memang tidak akan sedalam negara-negara maju. Selain itu, juga bahkan dibanding negara tetangga," katanya.

Baca: Jokowi: Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Minus 3,8 Persen 

Karena itu, dia menambahkan, peluang ini menjadi sesuatu yang harus dimanfaatkan, terutama karena pertumbuhan ekonomi kuartal II dipastikan negatif.

"Kita sudah tahu kuartal II itu akan kontraksi sangat dalam. Kemenkeu menggunakan angka minus 4,3 persen untuk kuartal II, nanti kita lihat apakah sedalam itu," turunnya.

Sementara itu, tantangan yang lebih penting lagi adalah kuartal III 2020 bisa atau tidak ekonomi Indonesia tumbuh di atas 0 persen.

Dengan sudah adanya tanda-tanda pemulihan perekonomian secara global, termasuk di Indonesia dengan membaiknya indeks Purchasing Managers Indeks (PMI).

"Pemulihan itu kalau kita lihat misalnya indeks PMI sempat jatuh sangat dalam ke 20-an, belum pernah sejauh itu. Sekarang, kita mulai pulih ke arah 39, ini data Juni, mudah-mudahan Juli nanti ini akan lebih baik lagi," pungkasnya.

Adapun, data-data ini seiring mulai naiknya juga mobilitas masyarakat dan ekspor sudah meningkat signifikan ke arah positif secara geologis.

Lalu, permintaan kredit modal kerjapun juga sudah mulai ada dari sejak bulan Juni meski kapasitas produksi tidak bisa maksimal.

Restoran juga maksimum terisi setengah, begitu juga dengan bioskop dan utilisasi pabrik-pabrik diperkirakan kurang dari 80 persen.

Disisi lain, vaksin diramal baru ketemu pada 2021 dengan kemungkinan berdasarkan sejarah tidak langsung efektif, butuh 7 sampai 8 tahun.

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved