Senin, 1 September 2025

PII Dorong Optimalisasi Lifting Migas untuk Kurangi Impor Energi

lifting migas dinilai masih menjadi pilar utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. 

Tribunnews.com/HO
LIFTING MIGAS - Lifting migas dinilai masih menjadi pilar utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menegaskan lifting migas masih menjadi pilar utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. 

Melalui forum Indonesia Energy Summit bertema “Peningkatan Lifting Migas untuk Ketahanan Energi Nasional”, PII menyatakan dukungan terhadap program Asta Cita Kemandirian Energi.

PII adalah organisasi profesi yang mewakili para insinyur di Indonesia.

PII didirikan pada 23 Mei 1952 atas prakarsa Presiden Soekarno melalui tokoh-tokoh seperti Ir. Djuanda Kartawidjaja dan Dr. Roosseno Soerjohadikoesoemo.

Tujuannya sebagai wadah kolaborasi, pengembangan keahlian, dan kontribusi insinyur terhadap pembangunan nasional.

Deputi Ketua Umum PII Prayitno mengatakan forum ini menghadirkan regulator dan praktisi guna mendorong industri hulu migas meningkatkan lifting minyak dan gas bumi. 

“Lifting migas merupakan bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Prayitno dalam keterangan Minggu (31/8/2025).

Nota Keuangan RAPBN 2025 mencatat target lifting minyak sebesar 600 ribu barel per-hari dan gas bumi mencapai 1.005 juta barel per hari. Target ini diupayakan melalui optimalisasi produksi, peningkatan investasi serta pemanfaatan teknologi eksplorasi dan produksi yang lebih efisien.

“Lifting migas bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga terkait bagaimana kita menjaga kemandirian dan ketahanan energi nasional agar perekonomian tetap tumbuh berkelanjutan,” ungkap Prayitno.

PII memandang peningkatan lifting migas perlu didorong melalui langkah strategis. 

Beberapa strategi tersebut antara lain optimalisasi lapangan existing dengan kegiatan workover, well service dan pengeboran sumur baru, percepatan proyek strategis hulu migas serta perluasan investasi dengan skema fiskal lebih kompetitif.

Selain itu, pemanfaatan teknologi digital seperti AI, big data dan digital twin dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasi migas.

Prayitno menambahkan peningkatan lifting migas akan memperkuat fondasi ketahanan energi, mengurangi ketergantungan pada impor serta menjaga stabilitas ekonomi. 

“Hal ini sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja serta mendukung transisi energi secara bertahap,” jelas Prayitno.

Prayitno juga menegaskan, migas tetap menjadi tulang punggung energi nasional, sambil pemerintah terus mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mencapai bauran energi berkelanjutan.

Seperti diketahui sebelumnya event ini bisa terselenggara atas dukungan Ketua pelaksana FGD Indonesia Energy Summit Ali Rekso Tinamtu ST MBA serta Ketua bidang migas DKU Kebumian dan Energi Patuan Alfon Simanjuntak.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan