Apindo : Kebutuhan Utama Pelaku Usaha di Tengah Pandemi Covid-19 Adalah Tingkatkan Daya beli

saat ini di tengah pandemi Covid-19, Sutrisno mengatakan kebutuhan utama dari pelaku usaha adalah meningkatkan daya beli.

ist
Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono mengatakan semua pelaku usaha tidak ada yang tidak terdampak dari pandemi Covid-19.

Untuk itu, saat ini di tengah pandemi Covid-19, Sutrisno mengatakan kebutuhan utama dari pelaku usaha adalah meningkatkan daya beli.

Baca: Pelaku Usaha Terdampak Covid-19, Apindo: Paling Parah Sektor Wisata

"Saya kira yang menjadi kebutuhan utama dari pelaku usaha itu adalah meningkatkan daya beli, daya beli itu adalah utama," ujar Sutrisno, sarasehan dan webinar 'Menggerakkan Roda Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19', Jumat (18/9/2020).

"Sebab kalau tidak ada daya beli, kemudian kita mau produksi seperti apapun tentu akan sulit dipasarkan karena tidak punya pembeli. Oleh karena itu makanya untuk meningkatkan daya beli itu sangat penting ya," imbuhnya.

Sutrisno juga mengatakan pemerintah sudah melaksanakan berbagai langkah dan kebijakan di bidang moneter seperti relaksasi.

Namun, yang masih menjadi masalah di lapangan adalah masih banyaknya keraguan dari pelaku usaha. Terutama karena masih terhambatnya ketika mereka berusaha berhubungan dengan pihak perbankan.

"Jadi transmisi dari pusat ke daerah yang tidak begitu smooth. Oleh karena itu kita memang minta agar di sisi moneter itu ada proses yang lebih cepat," kata dia.

"Sehingga kemudian di lapangan bisa menjadi negosiasi yang cepat dan demikian membuat kondisi di lapangan lebih rileks dan tentu keluar bisa disalurkan dan itu akan menyebabkan likuiditas akan lebih baik," jelas Sutrisno.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono mengatakan semua pelaku usaha tidak ada yang tidak terdampak dari pandemi Covid-19.

"Kalau kita lihat dari sisi pelaku usaha, ini tidak ada yang tidak terdampak. Jadi semuanya mengalami, hanya tingkat keparahannya yang berbeda-beda antara satu sektor dengan sektor lain," ujar Sutrisno, sarasehan dan webinar 'Menggerakkan Roda Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19', Jumat (18/9/2020).

Namun demikian, sektor yang paling parah terdampak menurut Sutrisno adalah sektor pariwisata yang berkaitan paling erat dengan lalu lintas orang.

"Kalau kita lihat secara sektoral sebenarnya yang paling parah terdampak itu yang berkaitan dengan lalu lintas orang. Yang memang banyak sekali terjadi kontak antara orang dengan orang yang itu sudah pasti sektor pariwisata," kata dia.

Sutrisno menjelaskan hotel hingga restoran di sektor pariwisata memang menjadi sektor yang paling signifikan terdampak saat ini. Pada awal pandemi, dia mencatat yang bisa beroperasi hanyalah 5 hingga 10 persen dari keseluruhan.

Keadaan tersebut, kata dia, sempat membaik bagi sektor tersebut saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di awal-awal tak diberlakukan. Akan tetapi sekarang kembali bergejolak.

"Mungkin kemarin agak membaik gitu. Tetapi sekarang tentu, khususnya di Jakarta, karena PSBB lagi kemudian ada penurunan lagi," jelasnya.

Sektor perdagangan terutama yang berkaitan dengan retail menjadi sektor kedua yang terparah setelah sektor pariwisata. Alasannya tentu karena tak banyak orang keluar selama pandemi, maka perdagangan menjadi lesu.

Menyusul berikutnya sektor angkutan umum dan sektor manufaktur. Sektor-sektor tersebut, kata Sutrisno, termasuk sektor yang dapat dikatetorikan terdampak parah. Namun ada pula sektor yang dapat dikatakan hanya sedikit terdampak.

"Kemudian ada yang memang lebih baik, seperti sektor yang berkaitan dengan telekomunikasi, farmasi, kesehatan, kimia itu relatif lebih bagus dan dampaknya lebih kecil," tandasnya.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved