Breaking News:

BPS Waspadai Dampak Musim Hujan Akhir Tahun, Kenapa?

BPS menyatakan, perkembangan tingkat inflasi dari bulan ke bulan maupun dari tahun ke tahun di awal musim penghujan akhir tahun ini berlanjut.

Istimewa
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (16/11/2020). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, perkembangan tingkat inflasi dari bulan ke bulan maupun dari tahun ke tahun di awal musim penghujan akhir tahun ini berlanjut.

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Setianto mengatakan, inflasi November 2020 sebesar 0,28 persen, berlanjut setelah inflasi Oktober sebesar 0,07 persen.

Baca juga: BPS Catat Inflasi November 0,28 Persen, Tertinggi di Tual

Baca juga: BPS Catat 9,7 Juta Orang Menganggur, Apa Solusi Menaker Ida Fauziyah Mencegah PHK Meluas?

"Itu di November sebesar 0,28 persen. Jadi, memang perlu diwaspadai terkait dengan mulai musim penghujan, kemudian adanya libur panjang beberapa waktu yang lalu," ujarnya saat konferensi pers virtual, Selasa (1/12/2020).

Setianto menjelaskan, terkait dengan musim penghujan ke depan dapat mengganggu distribusi barang dari produsen ke konsumen.

Sementara itu, inflasi November 0,28 persen utamanya karena kenaikan harga makanan dan minuman dengan andil sebesar 0,22 persen.

"Untuk kategori inflasi makanan dan minuman ini contohnya daging ayam dengan andil 0,08 persen," kata Setianto

Sementara, ayam ras, bawang merah, kemudian untuk emas perhiasan ini mengalami penurunan harga atau deflasi dengan andil 0,02 persen.

"Kemudian, beras dan daging sapi juga ada penurunan harga dengan andil 0,01 persen atau mengalami deflasi," pungkasnya.

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved