Breaking News:

Ekonom CORE: Seperti BRI, Perbankan Harus Miliki Sumber Pendanaan Sehat

Pengamat menilai komposisi dana murah yang besar harus dimiliki lembaga perbankan, agar kinerja perusahaan bisa tumbuh positif dan berkelanjutan.

KEMENKEU
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bambang Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat menilai komposisi dana murah yang besar harus dimiliki lembaga perbankan, agar kinerja perusahaan bisa tumbuh positif dan berkelanjutan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, tidak ada bank yang enggan memiliki porsi dana murah jumbo.

Menurut Piter, kepemilikan sumber pendanaan murah bisa membuat sebuah bank meraup laba lebih besar.

Baca juga: Pencairan BLT UMKM Rp 2,4 Juta Terakhir 18 Februari, Ini Cara Cek Penerima di eform.bri.co.id/bpum

“Porsi dana murah yang besar akan berdampak positif terhadap kinerja sebuah bank. Semua bank mengharapkan memiliki struktur pendanaan yang didominasi dana murah," jelas Piter dalam keterangan tertulis, Senin (15/2/2021).

Piter menyebut, saat ini ada sejumlah bank yang memiliki komposisi pendanaan murah besar, salah satunya yakni BRI.

"Bank-bank yang memiliki sumber dana murah yang besar seperti BRI memiliki peluang mendapatkan laba yang lebih besar,” jelas Piter.

Berdasarkan catatan hingga akhir 2020, BRI Group memiliki dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1.121,10 triliun. Jumlah ini naik 9,8 persen secara tahunan.

Dari angka tersebut, 59,67 persen di antaranya merupakan dana murah (CASA) yang bersumber dari tabungan dan giro.

Capaian CASA BRI di akhir tahun 2020 lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2019 yang tercatat sebesar 57,70 persen.

Nilai giro yang dikelola BRI mencapai Rp 193,1 triliun per Desember 2020, dan pada saat yang sama terdapat Rp 475,8 triliun dana tabungan yang dikelola BRI.

“Dengan cost of fund (beban dana) yang lebih rendah, maka perbankan akan lebih efisien dan dapat lebih kompetitif dalam menyalurkan kredit," jelas Pieter.

"Dengan begitu, maka nasabah yang didapatkan juga akan lebih baik, sehingga risiko kredit akan lebih rendah, kualitas kredit akan lebih baik, dan pada akhirnya keuntungan akan lebih besar,” katanya.

Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved