Selasa, 28 April 2026

Sektor Tambang dan Penggalian Mendominasi PDRB Kabupaten Mimika

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mimika pada 2025 tercatat sebesar Rp131,07 triliun berdasar data BPS.

Tayang:
Penulis: Erik S
Editor: Choirul Arifin
HO/IST/dok. mind id
TOPANG PDRB - PT Freeport Indonesia (PTFI), bagian dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, menjadi penopang utama perekonomian Kabupaten Mimika di Papua Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • PT Freeport Indonesia turut menopang ekonomi Mimika dengan kontribusi sektor tambang terhadap PDRB daerah.
  • Kontribusi fiskal besar mencakup PNBP royalti serta penyerapan tenaga kerja dan multiplier effect ekonomi luas.
  • Data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mimika pada 2025 tercatat sebesar Rp131,07 triliun. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — PT Freeport Indonesia (PTFI), sebagai bagian dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, turut menopang perekonomian di Papua Tengah, khususnya Kabupaten Mimika.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) daerah, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mimika pada 2025 tercatat sebesar Rp131,07 triliun. 

Dari sisi struktur ekonomi, sektor pertambangan dan penggalian masih mendominasi. Pada 2025, kontribusi sektor ini tercatat sebesar Rp114,48 triliun.

Porsi kontribusi dari sektor tambang terhadap total PDRB pun meningkat. Pada 2025, kontribusinya mencapai 14,51 persen, naik dari 12,35 persen pada 2024.

Dari sisi kontribusi fiskal, pada 2025 PTFI mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar 4 persen atau senilai 112,4 juta dolar AS, serta kontribusi untuk pemerintah daerah sebesar 6 persen atau 168,6 juta dolar AS. 

Total kontribusi langsung tersebut mencapai 281 juta dolar AS atau sekitar Rp4,5 triliun (asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS). Selain itu, kontribusi royalti PTFI tercatat sebesar 345,8 juta dolar AS atau setara Rp5,9 triliun.

Dari sisi ketenagakerjaan, pada 2025 total ekosistem tenaga kerja PTFI mencapai sekitar 34.000 orang, terdiri dari 6.630 karyawan langsung dan 27.707 tenaga kerja kontraktor.

Sebagian besar tenaga kerja terserap di wilayah operasional Papua, serta fasilitas hilirisasi seperti smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) di Gresik.

Baca juga: Hilirisasi Terus Didorong Demi Kemandirian Industri Pertambangan Nasional

Selain kontribusi langsung, aktivitas PTFI juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui rantai pasok dan kegiatan ekonomi turunan lainnya.

Di sisi sosial, belanja program pengembangan masyarakat pada 2025 mencapai 86,2 juta dolar AS, yang difokuskan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai kontribusi PTFI dalam lima tahun terakhir semakin signifikan, terutama setelah proses divestasi yang membuat kepemilikan Indonesia mencapai 51 persen.

“Kontribusi Freeport untuk negara itu besar sekali, baik dari dividen maupun pajak. Sekarang juga terus berekspansi hingga ke hilirisasi, sehingga tidak hanya kontribusi fiskalnya besar, tapi juga potensi serapan tenaga kerja,” ujar Ferdy dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Baca juga: Potensi Logam Tanah Jarang Besar, Tambang Ilegal Jadi Ancaman Serius

Menurut dia, keberadaan PTFI menjadikan Papua sebagai salah satu kontributor penting bagi perekonomian nasional, terutama melalui komoditas strategis seperti emas dan tembaga.

“Tembaga itu penting untuk industri, termasuk ekosistem baterai kendaraan listrik. Ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujarnya.

Ferdy juga menyoroti transformasi operasional PTFI di bawah MIND ID dari tambang terbuka (open pit) ke tambang bawah tanah (underground) sebagai capaian besar dengan standar internasional dan nilai investasi yang signifikan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved