Breaking News:

Hal yang Perlu Dilakukan Investor Pemula Agar Terhindar dari Fenomena Pompom Saham

fenomena pom-pom dimana saham dipompa (pump) agar harganya melejit oleh individu atau kelompok sehingga tampak menggiurkan.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ILUSTRASI Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Investor saham pemula di Indonesia pasar modal Indonesia menunjukkan geliat positif dengan terus bertambahnya investor di tengah pandemi Covid-19.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor sebanyak 3,9 juta Single Investor Identification (SID) atau melonjak 56 persen jika dibandingkan dengan posisi di akhir tahun 2019.

Investasi di pasar modal banyak digemari publik saat ini khususnya kaum milenial.

Baca juga: IHSG Ditutup Negatif, Saham Antam Diborong Asing

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menunjukkan bahwa demografi investor untuk usia di bawah 30 tahun berjumlah 54,8 persen dan usia 31-40 tahun berjumlah 22,6 persen dari total investor pasar modal di Indonesia.

Dapat dikatakan pula lebih dari 75 persen investor pasar modal Indonesia berada pada usia muda atau produktif.

Grant Thornton Indonesia melihat banyaknya investor baru ini patut menjadi perhatian, terlebih lagi dengan munculnya fenomena pom-pom dimana saham dipompa (pump) agar harganya melejit oleh individu atau kelompok sehingga tampak menggiurkan.

Baca juga: Begini Cara Memilih Saham Layak Beli atau Cuma Pompom 

Fenomena ini juga bersamaan dengan maraknya influencer yang ikut membicarakan soal investasi saham dengan merekomendasikan saham tertentu sehingga semakin meningkatkan antusiasme publik untuk berinvestasi saham.

“Saham tidak jarang dianggap sebagai instrumen investasi yang mampu menghasilkan keuntungan yang relatif tinggi. Namun, sama seperti investasi pada umumnya, potensi keuntungan yang tinggi dari investasi saham juga tentu diikuti dengan risiko yang tinggi, fakta ini yang seringkali kurang diperhatikan oleh investor pemula,” kata Marvin Camangeg, Advisory Director Grant Thornton Indonesia, Jumat (26/2/2021).

Performa beberapa perusahaan yang sempat mengalami kenaikan harga saham hingga ratusan persen juga mendorong banyaknya investor newbie menjadi merasa FOMO (Fear of Missing Out) dimana mereka akhirnya bertindak impulsif hanya karena takut ketinggalan momentum untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Baca juga: Investasi Saham Dinilai Berisiko Tinggi, Jangan Coba Kalau Tidak Kuat

Banyak akhirnya investor pemula yang salah kaprah dengan menginvestasikan uang untuk kebutuhan sehari-hari bahkan berutang dengan bunga besar, mereka yang tadinya berharap mendapat keuntungan cepat justru banyak yang berakhir dengan rugi besar.

Akan lebih baik apabila investor pemula belajar dan meningkatkan pemahaman terlebih dahulu sebelum berinvestasi saham.

Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti webinar dan workshop tentang pasar modal yang sering diselenggarakan oleh instansi berkaitan ataupun bergabung dengan komunitas pemain saham sehingga para investor pemula bisa langsung mendengarkan dan belajar dari orang – orang yang sudah berpengalaman.

“Sekarang teknologi juga telah mengubah aturan permainan. Jadi sebelum berinvestasi saham, perlu memahami profil resiko perseorangan, tetap rasional dan tidak bergantung pada intuisi saja waktu pemilihan saham. Selalu mencari bantuan dari para penasihat investasi yang dapat membantu dan memberikan bimbingan dalam keputusan berinvestasi,” tukas Marvin.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved